Memahami Apa dan Bagaimana Humor

by Achmanto Mendatu (2010)
 
1. Apakah humor?, 2. Otak humor, 3. humor dan kesehatan, 4. humor dan kesejahteraan psikologis, 5. humor dan religi, 6. humor dan seksualitas, 7. humor dan pernikahan, 8. humor dan psikologi, 9. humor dan dunia kerja, 10. humor dunia akademik dan keilmuan
 

—————————————————————————————————–

1. Apakah Humor?

———————————————————————————————————–

Seorang peneliti humor terdepan saat ini, Rod A. Martin (2007, 2009), mendefinisikan humor sebagai suatu penjelasan terhadap seperangkat fenomena yang terkait dengan mencipta, mempersepsi, dan menikmati sesuatu yang menggelikan/lucu, sesuatu yang komikal, atau sesuatu ide, situasi atau kejadian yang inkongruen (tidak sebangun dengan kejadian lazimnya). Kata ‘humor’ digunakan untuk menyebut: (1)  sebuah stimulus yang lucu (misalnya lelucon/joke, film komedi, gambar komikal, dan sebagainya yang digolongkan sebagai materi humor); (2) proses kognitif yang terlibat dalam menciptakan atau mempersepsi kelucuan (berhumor atau merasakan humor); (3) emosi gembira yang terkait dengannya; dan (4) sebuah karakteristik kepribadian yang cenderung lebih menikmati inkongruensi atau kemampuan membuat lucu orang lain dan membuat mereka tertawa (biasa disebut orang ‘humoris’).

Materi Humor

Inti pengalaman humor adalah persepsi bahwa sesuatu itu ‘lucu’ (Ruch, 2008). Nah, untuk merasakan ‘lucu’, seseorang harus mampu menangkap inkongruensi, ketakterdugaan dan kemain-mainan dari sebuah stimulus. Inkongruensi adalah ketidaksebangunan, keganjilan, ketidakbiasaan, ketidakcocokan atau ketidakselarasan dengan apa yang biasanya atau apa yang diharapkan dari sebuah stimulus. Biasanya, dalam proses yang sangat cepat -hampir secara instingtif- seseorang akan tahu sebuah stimulus mengandung inkongruensi atau tidak. Jika merasa lucu maka berarti telah menemukan inkongruensi. Prosesnya sering kilat: tiba-tiba saja sudah tertawa karena merasa lucu. Alhasil, kadang orang pun kesulitan untuk menunjukkan inkongruensinya. Coba perhatikan gambar berikut:*

humor1

Apakah Anda merasa lucu melihat gambar di atas? Jika ya, maka di manakah letak inkongruensinya? Letak inkongruensi utama ada pada ketidakselarasan antara kejadian yang diharapkan dengan kejadian yang terjadi. Pada adegan berseru, “Nggak usah! Nggak usah pake kantong plastik, mbak!”, kebanyakan orang akan berpikir kalau adegan berikutnya adalah minta kantong dari bahan yang bisa didaur ulang atau telah menyiapkan kantong sendiri. Akan tetapi adegan berikutnya ternyata berupa membawa barang belanjaan dengan menggembolnya di kaos sendiri. Adegan itu di luar dugaan dan ganjil, maka kita pun merasakan kelucuan.

Perhatikan lelucon/joke berikut:

Di ruang perpustakaan sekolah sedang terjadi diskusi yang serius antara guru dengan seorang muridnya yang sangat ingin menjadi anggota LKIR.

Guru      : “Apa yang dapat kamu sumbangkan untuk LKIR sekolah kita?”
Murid   : “Sebuah penemuan dari penelitian yang saya lakukan sendiri.”
Guru      : “Apa itu?”
Murid   : “Menggabungkan 2 jenis tumbuhan lain spesies. Dan ternyata berhasil.”
Guru      : “Apa 2 jenis tumbuhan itu?”
Murid   : “Kelapa dan singkong.”
Guru      : (Ternganga tidak percaya) “Lalu apa yang terjadi dengan kedua tumbuhan itu?”
Murid   : “Jadi getuk.”

.

Anda merasakan kelucuan membaca lelucon di atas? Jika iya, maka Anda telah menemukan inkongruensi dari lelucon itu. Inkongruensi terpenting adalah hasil perpaduan ‘kelapa’ dan ‘singkong’ yang menjadi ‘getuk.’ Dalam alam pikiran biasa, penggabungan itu semestinya berupa penggabungan batang kelapa dan singkong sehingga menghasilkan tanaman baru. Tak diduga-duga, penggabungannya berupa makanan “getuk” yang merupakan perpaduan antara umbi singkong dan buah kelapa.

Segala sesuatu yang memiliki inkongruensi dan inkongruensinya itu bisa ditemukan seseorang sehingga merasakan kelucuan disebut sebagai materi humor. Bentuk formalnya bermacam-macam: ada yang berbentuk tulisan (misalnya cerita lucu atau lelucon/joke),  gambar (misalnya komik atau karikatur), film (misalnya video lucu, animasi lucu, film komedi), tindakan (misalnya membadut, melawak), ucapan (misalnya menceritakan lelucon atau berkomentar jenaka), dan sebagainya. Semua itu bisa dijadikan sumber uang oleh industri humor: para pelawak melawak, para kartunis menggambar kartun atau komik, para penulis menuliskan buku humor, para pembuat film membuat film komedi, dan seterusnya.

Tahukah Anda, humor yang terdapat dalam industri humor melalui beragam produknya hanyalah bagian kecil dari materi humor yang ada? Dari hasil penelitiannya,  Rod A. Martin dan rekannya melaporkan bahwa hanya 17% tertawa yang merupakan hasil picuan media. Selebihnya merupakan hasil interaksi sosial antar manusia.

Secara garis besar, humor yang biasa terjadi dalam hidup keseharian bisa dibagi ke dalam tiga kategori, yakni: 1) lelucon/joke, yang merupakan anekdot/cerita mengandung humor yang diingat orang dan disampaikan dari satu orang ke orang lainnya, 2) humor spontan dalam percakapan, yang dihasilkan tanpa disengaja oleh seseorang selama interaksi sosial, baik secara verbal atau nonverbal (misalnya olok-olok, komentar ganjil, jawaban cerdas-lucu untuk pernyataan serius, dan lain-lain) dan 3) humor aksidental atau humor tanpa niatan berhumor, misalnya seseorang terpeleset karena menginjak kulit pisang, salah sebut kata atau salah tulis kata, dan semacamnya.

Proses Humor

Secara sederhana, proses terjadinya humor bisa dijelaskan dengan suatu urutan berikut: (1) Adanya sesuatu yang mengandung inkongruenitas, ® (2) Seseorang berhasil mempersepsi adanya inkongruenitas di sana dan berhasil melihatnya sebagai sesuatu yang tidak serius atau tidak penting yang kemudian dimasukkan dalam kerangka berpikir bermain-main sehingga melihat kelucuan, ® (3) timbul emosi gembira karena kelucuan (istilah teknisnya disebut emosi ‘mirth’), ® (4) Muncul ekspresi emosi gembira karena lucu (mirth), berupa tersenyum atau tertawa.

Pada dasarnya, sesuatu hal yang mengandung inkongruenitas bersifat netral. Sesuatu itu baru bisa menimbulkan kelucuan jika seseorang menemukannya, dan untuk itu diperlukan proses berpikir yang cepat dan cerdas. Itu kenapa muncul pameo, “He who laughs last, thinks slowest” (yang tertawa paling akhir berarti berpikir paling lambat).

Mempersepsi inkongruenitas sesuatu tetap belum cukup untuk membuat kelucuan. Untuk sampai merasa lucu, diperlukan proses berpikir tambahan berupa meletakkan inkongruenitas itu sebagai sesuatu yang tidak serius atau tidak penting, dan  bermain-main. Sebagai contoh, lihat kembali gambar kartun ‘Benny & Mice’ di atas. Katakanlah, Anda berhasil menemukan inkongruensinya. Akan tetapi jika Anda melihatnya dalam kacamata yang serius dan tidak mampu melihatnya sebagai main-main, maka Anda akan sulit melihat gambar itu sebagai humor. Barangkali Anda akan menganalisanya bahwa memang sebaiknya strategi mengurangi sampah plastik adalah dengan memanfaatkan kaos sendiri. Dengan kerangka serius, otomastis kelucuan perilaku Benny dan Mice tak akan tampak. Anda pun tak akan merasakan lucu.

Bersamaan dengan persepsi kelucuan, akan timbul sejenis emosi kegembiraan karena kelucuan (emosi gembira yang hanya timbul karena adanya kelucuan). Rod A. Martin menyebutkan sebagai emosi ‘mirth’. Adanya emosi ‘mirth’ itulah yang menjadi sebab humor menyenangkan. Sama seperti emosi lainnya, derajatnya bisa bervariasi: ada yang rendah, sedang dan ada yang sangat kuat. Semakin kuat kelucuan yang diperoleh maka emosi ‘mirth’ juga semakin kuat.

Penelitian menunjukkan bahwa sirkuit otak tertentu di sistem limbik (sistem otak yang bertanggungjawab terhadap emosi) akan diaktifkan selama berhumor. Bagian sirkuit itu diketahui merupakan bagian sirkuit yang sama yang bertanggungjawab terhadap aktivitas yang secara emosional menyenangkan, seperti makan, menikmati musik, aktivitas seksual dan lainnya. Ini menjelaskan mengapa humor begitu menyenangkan dan mengapa orang berusaha memperpanjang pengalaman berhumor sesering mungkin: kapan pun kita tertawa pada sesuatu yang lucu, kita mengalami pengalaman emosional menyenangkan yang tinggi, yang berakar dari perubahan biokimia di otak.

Sama seperti emosi lainnya, emosi ‘mirth’ memerlukan pengekspresian. Caranya dengan tersenyum atau tertawa. Jadi, tersenyum dan tertawa adalah produk akhir sebuah humor, baik itu berupa tersenyum tipis, tersenyum kecil, tersenyum lebar, tertawa kecil, tertawa lebar, sampai tertawa tergelak-gelak atau terbahak-bahak. Semakin kuat emosi ‘mirth’ yang dirasakan maka cenderung semakin kuat pula tertawanya.

Bagaimana cara tersenyum dan tertawa ditentukan tingkat kelucuan yang dirasakan, situasi sosial yang ada, kepribadian dan norma budaya. Biasanya, semakin lucu sebuah humor dipersepsi, maka tertawa akan semakin keras dan lepas. Tingkat kelucuan itu sendiri tergantung pada seberapa besar inkongruensi yang berhasil ditemukan. Semakin besar dan jauh inkongruensinya, maka orang cenderung akan merasakan kelucuan yang semakin tinggi. Dalam situasi sosial (adanya orang lain), biasanya orang juga akan tertawa lebih keras. Cukup jarang orang tertawa terbahak-bahak sendirian. Saat sendiri, orang lebih cenderung hanya tersenyum. Diketahui, respon tersenyum lima kali lebih sering ketimbang respon tertawa saat mempersepsi humor. Kepribadian ikut mempengaruhi respon terhadap humor: orang-orang ekstrovert (terbuka) cenderung tertawa lebih banyak ketimbang orang orang introvert (tertutup). Lantas, budaya pun memainkan peranan menentukan. Pada budaya tertentu, tertawa tergelak-gelak sangat diharapkan. Pada budaya yang lain, tersenyum tipis sudah cukup sebagai respon atas humor, tertawa tergelak-gelak justru dianggap tidak sopan. Faktor budaya ikut mempengaruhi bagaimana lelaki dan perempuan memberikan respon terhadap humor. Pada umumnya, lelaki lebih dimaklumi jika sampai tertawa terbahak-bahak, sedangkan perempuan diharapkan maksimal cukup dengan tertawa kecil saja.

humor2Humor dan tertawa bersifat universal. Artinya, semua orang dari semua budaya di semua belahan bumi mengalaminya. Dari manusia di gurun sahara hingga manusia di pedalaman hutan Amazon, sampai di dataran es Artik, tanpa terkecuali semuanya berpengalaman dalam merasakan humor. Bahkan simpanse pun tertawa, sebagaimana jenis primata lainnya seperti bonobo, orangutan dan gorilla.

Diketahui, tertawa merupakan salah satu kemampuan manusia yang paling primitif. Menurut peneliti Jaak Panksepp, sebagaimana dipublikasikan dalam jurnal Science tahun 2005, kemampuan tertawa telah lebih dulu ada pada manusia ketimbang kemampuan berbicara. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa area otak yang bertanggungjawab terhadap tertawa berada di area otak yang lebih kuno ketimbang area otak yang bertanggungjawab terhadap kemampuan berbicara. Fenomena tertawa pada berbagai jenis binatang, terutama primata seperti orangutan dan simpanse juga membuktikan bahwa tertawa bisa ada tanpa harus memiliki kemampuan berbicara. Temuan itu mengindikasikan bahwa kemampuan merasakan kelucuan melalui humor nonverbal sudah lebih dulu ada ketimbang kemampuan orang bisa mengungkapkan ide dengan kata-kata. Seiring dengan perkembangan kemampuan manusia dalam berbahasa, humor pun semakin kompleks. Saat ini, mayoritas humor yang dilakukan oleh manusia merupakan humor verbal.

———————————————————————————————————–

2. Otak Humor

———————————————————————————————————–

Pada saat kita mengapresiasi sebuah humor (melihat, membaca, mendengar, merasakan suatu inkongruensi), area otak yang akan diaktifkan adalah prefrontal cortex (warna kuning pada gambar). Semakin lucu lelucon yang dipersepsinya, maka semakin aktif pula area tersebut. Diketahui, kerusakan pada area tersebut menyebabkan seseorang tidak mampu memahami dan bereaksi secara emosional terhadap lelucon. Para peminum alkohol secara nyata kesulitan untuk mengapresiasi humor. Kondisi tersebut diakibatkan karena konsumsi alkohol memberikan efek toksik (racun) terhadap prefrontal cortex. Bagian otak lainnya yang bertanggungjawab terhadap humor adalah amigdala (bagian otak yang menjadi pusat emosi) serta nucleus accumbens dan bagian lain dari sirkuit imbalan (keduanya ditunjukkan dengan warna merah).

humor3otakNuclues accumbens adalah salah satu bagian otak yang memproses imbalan (menentukan apa yang dirasakan seseorang ketika menghadapi atau melakukan sesuatu). Bagian tersebut sering disebut otak pencandu karena perilaku-perilaku yang memberikan imbalan kesenangan/positif akan didorong untuk terus dilakukan. Berbagai macam bentuk kecanduan seperti alkoholisme, judi, gim dan lainnya, bersumber di sana. Tidak mengherankan jika ada yang menyebut humor sebagai salah satu bentuk kecanduan, karena memang memberikan kesenangan. Temuan Dean Mobbs, dari Stanford University, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pada saat menikmati humor, sistem limbik di otak akan lebih aktif dan melepaskan dopamine, yang membuat seseorang merasakan kenyamanan begitu merasakan kelucuan.

Tampaknya otak memainkan peran penting dalam menentukan kadar humoris seseorang. Berdasarkan penelitian Allan L. Reiss dan rekan-rekannya dari Stanford University, Amerika Serikat, pada tahun 2005, diketahui bahwa otak bereaksi berbeda terhadap humor tergantung kepribadian seseorang. Orang yang memiliki sifat ekstrovert akan lebih aktif pada prefrontal cortex dan daerah sekitar orbiofrontal cortex-nya saat mengapresiasi humor, ketimbang orang dengan sifat introvert. Pada saat yang sama, amigdala dan bagian depan temporal lobe pada orang introvert lebih aktif daripada pada orang ekstrovert. Perbedaan tersebut berakibat humor memberikan imbalan yang berbeda antara orang ekstrovert dan introvert: orang ekstrovert mendapatkan kesenangan lebih tinggi dari berhumor.

Pada tahun 2008, Wolfgang Grodd dari University of Tübingen, Jerman, menemukan bahwa orang-orang yang memiliki sifat-sifat ceria cenderung lebih aktif pada bagian otak yang bernama inferior parietal lobule (ditunjukkan dengan warna hijau). Area tersebut diketahui bertanggungjawab dalam pemecahan inkongruensi, yang merupakan sebuah keterampilan utama dalam menangkap humor. Artinya, area itulah yang diduga menyebabkan seseorang mudah ceria dan menikmati berbagai ambiguitas atau humor.

Para pencari sensasi/petualang, yang merupakan pengejar kenikmatan melalui seni, musik, perjalanan, dan sebagainya, mengalami kenikmatan lebih besar dalam mengapresiasi humor. Pada saat menikmati humor, area inferior parietal lobule dan hippocampus (bagian otak yang bertanggung jawab dalam pemrosesan pengalaman baru) yang dimiliki mereka lebih aktif ketimbang umumnya orang. Itu artinya, humor memberikan mereka sensasi pengalaman baru yang memang mereka cari-cari.

Selain faktor kepribadian, faktor budaya juga mempengaruhi bagaimana humor diproses di dalam otak. Richard Lewis dari University of Michigan di Ann Arbor, Michigan, USA, menemukan bahwa cara orang Asia memproses kartun berbeda dengan orang Amerika. Kepada subjek penelitian, Lewis memaparkan kartun-kartun yang sejauh mungkin netral budaya. Hasilnya, orang-orang Asia mengamati pertama kali latar belakang, sedangkan orang Amerika berkonsentrasi pada objek latar depannya. Dengan kata lain, orang Asia cenderung melihat kartun secara holistik, sedangkan orang Amerika cenderung fokus pada bagian tertentu. Temuan itu sangat kuat diduga sebagai akibat dari perbedaan budaya.

Temuan lain dari penelitian Richard Lewis yang menarik adalah proses yang terjadi saat ‘Aha moment’, yakni momen saat kita tahu bahwa sebuah lelucon masuk akal. Temuannya menunjukkan bahwa saat momen itu terjadi, pupil mata membesar selama setengah detik. Artinya, mata menjadi petunjuk bagi kita untuk mengetahui kapan seseorang sedang mendapatkan ‘aha moment’ dalam menikmati humor.

Pria dan wanita diketahui memproses humor secara berbeda. Saat menikmati humor, bagian prefrontal cortex bagian kiri pada wanita lebih aktif ketimbang pada pria. Artinya, wanita memerlukan tingkat lebih tinggi dalam proses memikirkan dan menguraikan bahasa. Akibatnya, wanita memerlukan waktu sedikit lebih lama ketimbang pria untuk memutuskan apakah sesuatu itu lucu atau tidak. Meskipun demikian, kondisi itu tidak mengganggu penikmatan mereka terhadap lelucon. Bahkan diketahui, saat menikmati humor, sistem limbik pada wanita menjadi lebih aktif, yang artinya wanita mendapatkan kesenangan lebih tinggi dari humor.

Belum tuntas pengetahuan kita tentang bagaimana otak memproses humor. Tetapi dipastikan prosesnya memang sangat kompleks.

———————————————————————————————————–

3. Humor dan Kesehatan

———————————————————————————————————–

Pada tahun 1960-an, Norman Cousins, seorang penulis, mempopulerkan term,laughter is medicine” (tertawa adalah obat). Saat itu dia terkena sejenis arthritis dan tidak mampu menahan rasa sakit. Lalu dia menerapi dirinya sendiri dengan tertawa dan minum vitamin C dalam jumlah besar. Dihabiskannya beberapa jam setiap hari untuk membaca buku-buku humor dan menonton acara komedi di TV. Setelah beberapa bulan, dia melaporkan kalau rasa sakitnya menghilang. Dia bahkan bersumpah bahwa tertawa terbahak-bahak selama 10 menit akan membuatnya bisa tidur nyenyak tanpa sakit selama dua jam. Pengalamannya dilaporkan dalam sebuah buku yang menjadi sangat populer, yakni “Anatomy of an Illness as Perceived by the Patient.” Benarkah Cousins?

Banyak tulisan di berbagai media massa populer yang menyatakan bahwa secara ilmiah telah terbukti kalau humor bisa menurunkan simptom alergi, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung, dan bahkan membantu tubuh dalam mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes. Daftar keuntungannya secara menakjubkan terus bertambah dari waktu ke waktu. Tertawa disebut-sebut memberikan latihan pada otot dan jantung, menghasilkan relaksasi otot, meningkatkan peredaran darah, mengurangi produksi hormone-hormon penyebab stres (misalnya catecholamines dan cortisol), memperluas jangkauan sistem kekebalan tubuh, mengurangi rasa sakit dengan menstimulasi hormon endorphin, mengurangi tekanan darah, meningkatkan pernafasan, menghilangkan karbon dioksida dan uap air dari paru-paru, dan sebagainya. Disebut-sebut, humor dan tertawa juga menyediakan perlindungan tambahan terhadap kanker, serangan jantung, stroke, diabetes, pneumonia, bronkitis, hipertensi, sakit kepala migrain, sakit arthritis, bisul dan semua jenis penyakit infeksi terentang dari demam, flu, hingga AIDS.

humortawadewasaSebagian klaim-klaim menakjubkan itu sangat spekulatif dan tak terbukti, dan sebagian hanya didukung oleh bukti yang sangat sedikit. Sampai sekarang ini, bukti-bukti dari berbagai penelitian masih belum mendukung pernyataan Norman Cousins, bahwa “tertawa adalah obat”. Tidak ada bukti kuat bahwa tertawa dan berhumor bisa menyembuhkan suatu penyakit, sehingga klaim-klaim itu tetap harus dibuktikan lebih lanjut. Saat ini, kebanyakan ilmuwan masih meyakini bahwa jika pun benar tertawa memberikan efek kesehatan sedemikian banyak, dimungkinkan karena efek plasebo, yakni karena orang percaya bahwa tertawa itu sehat, maka tubuh akan bereaksi menjadi lebih sehat, sedangkan tertawa itu sendiri tidak memberikan efek apa-apa.

Salah satu klaim manfaat tertawa yang terbukti tidak berdasar adalah efek tertawa terhadap risiko bronkitis dan pneumonia. Klaim menyebutkan bahwa tertawa mengurangi risiko infeksi bronkitis dan pneumonia karena tertawa mengeluarkan residu udara di dalam paru-paru, yang kemudian menghasilkan pengurangan kelembaban sehingga menekan pertumbuhan bakteri di organ pernafasan. Faktanya, tidak ada bukti bahwa tertawa bisa menurunkan kelembaban paru-paru. Yang menarik dari klaim itu, adalah bahwa seseorang bisa membuat klaim keuntungan kesehatan menakjubkan hanya dari sebuah efek fisiologis. Jika ternyata tertawa meningkatkan kelembaban paru-paru, toh orang tetap bisa mengklaim kalau tertawa memberikan manfaat karena menjaga paru-paru dari pengeringan.

Kekebalan tubuh

Apabila benar bahwa tertawa memberikan peningkatan kekebalan tubuh, maka mereka yang sering tertawa semestinya memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik. Akan tetapi, hingga saat ini, penelitian tentang efek tertawa terhadap kekebalan tubuh yang ada menunjukkan tidak ada atau sangat sedikit kaitan antara keduanya.

Toleransi rasa sakit

Tidak ada bukti kuat bahwa tertawa meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit. Peningkatan toleransinya kecil saja, itu pun pada rasa sakit yang sedang derajatnya. Untuk rasa sakit yang hebat, tidak ada bukti kalau tertawa bisa membantu menoleransinya. Pada beberapa kasus, toleransi terhadap rasa sakit memang benar-benar meningkat, tetapi bukan disebabkan karena tertawa, melainkan karena faktor pengharapan bahwa tertawa bisa menoleransi rasa sakit: mereka berharap lebih tahan sakit, dan mereka pun lebih tahan sakit. Tanpa pengharapan itu, peningkatan toleransi rasa sakit tidak terjadi.

Ada bukti bahwa emosi positif ceria memang bisa meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, namun tidak ada kaitannya dengan tertawa. Keceriaan, tanpa harus tertawa, dengan sendirinya sudah bisa meningkatkan toleransi rasa sakit. Dengan demikian, pendapat Norman Cousins tidaklah benar. Tertawa tidak bisa meningkatkan toleransi rasa sakit, tapi keceriaan memang bisa. Tidak mengherankan jika orang-orang yang lucu (playfulness) memiliki toleransi rasa sakit yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang serius (orang yang serius menanggapi berbagai hal dalam hidupnya dengan serius, dan dengan demikian mereka kurang berhumor dan tertawa).

Tekanan darah

Dispekulasikan bahwa tertawa terbahak-bahak bisa mengurangi tekanan darah dalam jangka panjang, dan dengan demikian akan lebih sehat pada tubuh. Studi eksperimental menunjukkan bahwa tertawa sebenarnya justru meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung dalam jangka pendek, meskipun tidak memiliki efek jangka panjang. Tertawa tidak akan membuat seseorang yang menderita hipertensi menjadi sembuh.

Awet muda

Salah satu klaim dari efek humor adalah efek awet muda. Banyak yang percaya bahwa mereka yang memiliki selera humor yang tinggi akan awet muda. Klaim ini tentu masuk akal jika mengingat banyak orang yang percaya bahwa humor/tertawa memberikan efek positif terhadap kesehatan. Maka boleh diyakini jika mereka yang paling kerap tertawa dan berhumor adalah mereka yang usianya paling panjang. Boleh jadi, inilah tes terpenting terhadap pernyataan adanya manfaat kesehatan dari humor dan tertawa.

Akan tetapi, dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa tidak ada perbedaan panjang usia antara pelawak dan penulis lawak, dibandingkan dengan penghibur dan penulis serius. Menariknya, penelitian yang dilakukan James Rotton, dan dipublikasikan dalam jurnal Health Psychology pada tahun 1992 itu, menunjukkan bahwa para humoris profesional (yang mencari uang dari humor) dan penghibur yang serius meninggal dalam usia yang secara signifikan lebih muda ketimbang jenis orang terkenal lainnya. Itu artinya, kemampuan mencipta humor dan membuat orang lain tertawa tidak tampak memberikan manfaat terhadap umur panjang.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Leslie R. Martin dan rekan-rekannya, sebagaimana dipublikasikan dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin, tahun 2002, menunjukkan hal serupa. Mereka yang memiliki keceriaan lebih tinggi pada usia 12 tahun cenderung mati lebih muda dibandingkan mereka yang kurang ceria. Memang benar bahwa mereka yang lebih ceria pada saat anak-anak akan tumbuh kurang neurotik atau kurang memiliki masalah emosional di kemudian hari. Mereka pun lebih baik dalam penyesuaian dirinya dan lebih kurang pedulian saat dewasa. Di sisi lain, mereka lebih cenderung memiliki masalah obesitas serta menunjukkan perilaku merokok lebih tinggi dan kurang mau berhenti merokok, yang mempertinggi masalah kardiovaskular. Mereka juga cenderung mengonsumsi alkohol lebih banyak. Kematian pada usia lebih muda yang menimpa mereka dimungkinkan sebagai akibat dari kecenderungan mereka mengabaikan risiko kesehatan dan kurang peduli dengan diri mereka sendiri.

Simptom penyakit

Apabila benar humor/tertawa memberikan manfaat besar terhadap kesehatan, maka semestinya mereka yang berhumor/tertawa lebih jarang sakit ketimbang pada umumnya orang. Akan tetapi penelitian-penelitian yang ada menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan apapun di antara mereka. Sebuah penelitian di Norwegia pada tahun 2004 yang melibatkan 65 ribu subjek malah menunjukkan bahwa secara keseluruhan, mereka yang tertawa lebih banyak tidak memiliki kesehatan lebih baik ketimbang yang kurang tertawanya. Mereka yang tertawa lebih banyak hanya ‘merasa’ memiliki kesehatan yang lebih baik, tapi secara objektif sebenarnya tidak. Secara umum, temuan penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memiliki selera humor (sense of humor) yang lebih tinggi tidak memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik ketimbang umumnya orang. Hanya saja mereka mempersepsi diri mereka sendiri lebih sehat dan kurang menunjukkan perhatian terhadap simptom penyakit meskipun secara objektif mereka sama saja dengan orang lainnya. Ironisnya, kepuasan lebih tinggi terhadap kondisi kesehatan dan rendahnya kepedulian terhadap masalah kesehatan justru memungkinkan mereka lebih berisiko melakukan perilaku tak sehat, yang sebagai akibatnya meningkatkan risiko kematian.

Berkebalikan dengan pendapat populer yang menyatakan besarnya manfaat tertawa/humor bagi kesehatan, data yang ada kurang mendukung (untuk melihat informasi lebih lanjut, baca buku yang tercantum di sumber bacaan). Belum ada cukup bukti untuk menyatakan bahwa tertawa atau humor secara langsung memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan. Akan tetapi keuntungan bagi kesehatan psikologis (kesejahteraan psikologis) memang nyata. Dimungkinkan, kesehatan fisik meningkat sebagai akibat peningkatan kesejahteraan psikologis, yang salah satunya didapat dari berhumor.

———————————————————————————————————–

4. Humor dan Kesejahteraan Psikologis (Well-Being)

———————————————————————————————————-

Sebagaimana terdapat kriteria berbagai macam penyakit fisik, terdapat pula berbagai macam kriteria gangguan psikologis. Sebagian di antara gangguan psikologis itu mungkin sudah sangat familiar di telinga Anda, seperti skizofrenia, fobia, ADHD, gangguan kepribadian narsisme, gangguan kepribadian paranoid, anorexia nervosa, bulimia nervosa, dan sebagainya. Untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan atau tidak, biasanya akan diacukan pada buku kompilasi gangguan, yakni DSM (Diagnostic and Statistical Manual) yang dikeluarkan oleh Asosiasi Psikiater Amerika atau ICD (International Classification of Disease) yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, WHO. Kedua buku itu menjadi acuan utama para psikolog dan psikiater dalam melihat kelemahan-kelemahan atau penyimpangan-penyimpangan psikologis dalam diri manusia. Lantas, bagaimana dengan kekuatan-kekuatan manusia?

humorbayitertawaKekuatan-kekuatan psikologis manusia tentu saja ada, sebagaimana adanya kelemahan-kelemahan psikologis manusia. Christopher Peterson bersama Martin E. Seligman telah mengompilasinya. Dihimpunnya berbagai jenis kekuatan positif manusia dari seluruh budaya di dunia, yang hasilnya kemudian dibukukan dalam buku yang diberi judul, Character Strengths and Virtues: A handbook and classification” (Oxford University Press, 2004). Yang menakjubkan, humor ternyata merupakan salah satu kekuatan psikologis utama manusia. Sebagai sebuah kekuatan psikologis, humor didefinisikan sebagai: a) Pengakuan, penikmatan dan atau pembuatan inkongruensi, b) Suatu pandangan ceria dalam ketidakberuntungan, c) Kemampuan membuat orang lain tersenyum atau tertawa. Individu dengan kekuatan humor, sangat sesuai digambarkan dengan pernyataan-pernyataan seperti berikut:

  • Kapan pun teman-teman saya dalam suasana hati yang murung, saya mencoba untuk menceriakannya
  • Saya akan senang mendapatkan kesempatan menceriakan hari seseorang dengan tertawa
  • Kebanyakan orang akan mengatakan saya terlahir lucu/ceria
  • Saya mencoba menambahkan humor dalam setiap hal yang saya lakukan
  • Saya tidak pernah membiarkan suasana murung mengambil alih cita rasa berhumor saya.
  • Saya biasanya selalu bisa menemukan sesuatu untuk ditertawakan atau menemukan lelucon/joke tentang situasi sulit yang saya hadapi.

Mengapa humor dikategorikan sebagai kekuatan manusia? Jawabannya sederhana: karena humor bermanfaat bagi kesehatan mental seseorang. Diketahui, orang yang sehat mentalnya memiliki: 1) kemampuan mengelola emosi negatif dan menikmati emosi positif; (2) kemampuan koping (berdamai) dengan stres dan beradaptasi terhadap perubahan; dan (3) kemampuan membangun hubungan dengan orang lain secara dekat, bermakna dan tahan lama. Dan humor, mempertinggi kemampuan-kemampuan tersebut.

Humor dan Emosi

Humor memunculkan emosi positif ‘mirth’. Kemunculan emosi itu menyebabkan seseorang cenderung merasa ceria dan penuh energi, kurang depresi, kurang cemas, kurang mudah tersinggung, dan kurang tegang. Emosi negatif pun akan menjauh. Dengan sendirinya, berkat kehadiran emosi positif ‘mirth’, muncul pula perasaan sejahtera. Semakin banyak berhumor, yang berarti semakin banyak emosi ‘mirth’ yang hadir, maka semakin banyak pula perasaan sejahtera yang muncul. Ini artinya humor memberikan kesempatan bagi seseorang untuk sebanyak mungkin menikmati emosi positif dalam hidupnya.

Berikut adalah beberapa kesimpulan penelitian terkait humor dan emosi:

  1. Humor bisa menurunkan mood negatif. Ini artinya, saat sedang dalam kondisi mood yang buruk, cobalah mencari suasana penuh humor dengan bergabung bersama teman-teman untuk bercanda ria atau menonton film komedi, membaca buku humor, dan semacamnya. Bisa berhumor dan tertawa akan memunculkan emosi ‘mirth’, yang dengan demikian menurunkan mood negatif yang dirasakan.
  2. Humor mempengaruhi cara memandang hidup menjadi lebih penuh harapan. Jadi, saat merasa kehilangan harapan, berhumorlah.
  3. Humor bisa mengubah persepsi sebuah tugas membosankan menjadi lebih menarik. Nah, Anda kebosanan? Berhumorlah. Carilah sisi humor dalam tugas Anda, dan tugas Anda itu akan menjadi lebih menarik.
  4. Humor, yang menghasilkan emosi positif dalam jangka pendek, memiliki efek yang setara atau lebih baik daripada latihan fisik berat untuk menghasilkan emosi positif. Artinya, meskipun benar bahwa aktivitas fisik akan memunculkan emosi positif, tapi humor lebih baik lagi.
  5. Humor memiliki korelasi positif signifikan dengan kesejahteraan psikologis. Ini artinya, semakin tinggi humor seseorang maka semakin tinggi kesejahteraan psikologisnya. Hal itu tidak mengherankan karena humor menghasilkan emosi positif yang penting bagi kesejahteraan psikologis. Selain itu, humor bisa juga membantu mengelola emosi negatif yang muncul (misalnya marah, sedih, kecewa, sakit hati).
  6. Humor memiliki korelasi positif signifikan dengan harga diri (self-esteem). Hal itu berarti bahwa semakin tinggi humornya maka harga dirinya semakin tinggi. Mereka yang lebih tinggi humornya memiliki kongruensi (kesesuaian) lebih tinggi antara diri yang dilihat ada pada dirinya dengan diri yang diharapkan ada padanya. Mereka juga lebih positif, lebih stabil, dan lebih realistis akan dirinya.
  7. Humor memiliki korelasi negatif yang lemah dengan depresi, kecemasan akan kematian, pesimisme, dan kecenderungan untuk kuatir dengan berbagai masalah kehidupan. Jadi, semakin tinggi humor seseorang, maka semakin rendah depresinya, semakin sedikit kecemasan akan kematiannya, lebih optimis, dan lebih rendah kecenderungannya untuk kuatir dengan berbagai masalah kehidupan. Akan tetapi hubungan antara humor dan hal-hal tersebut lemah saja atau tidak terlalu kuat.
  8. 8.    Humor memiliki korelasi negatif signifikan dengan depresi, gangguan mood, dan kelelahan emosional. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi humor seseorang maka semakin rendah depresinya, semakin kurang mengalami gangguan mood, dan semakin jarang mengalami kelelahan emosional.
  9. Tersenyum dan tertawa itu sendiri, meskipun tanpa humor bisa memunculkan emosi positif ‘mirth’, meskipun lebih singkat dan temporer. Temuan itu menyatakan bahwa latihan tersenyum dan tertawa tanpa berhumor sudah bisa memberikan Anda emosi positif yang menyenangkan, meskipun sesaat. Jadi, memasang muka tersenyum akan lebih baik bagi Anda. Dan sesekali melatih tawa tanpa ada yang lucu tak ada salahnya.

Tidak semua humor berpotensi menyehatkan mental, sebagian humor malah membuat tidak sehat. Dua gaya humor yang justru tidak menyehatkan adalah gaya berhumor agresif dan gaya berhumor menyalahkan diri. Gaya berhumor agresif adalah gaya berhumor untuk tujuan mengkritik atau memanipulasi orang lain, seperti dalam sarkasme, olok-olok, meremehkan, dan sebagainya. Contohnya adalah mengolok-olok kesalahan atau kejelekan orang lain. Termasuk di dalamnya adalah berhumor yang rasis atau melecehkan dan terus berhumor di situasi yang tidak tepat. Kebanyakan dari kita akan langsung tahu saat seseorang berhumor agresif dan mendominasi.

Gaya berhumor menyalahkan diri adalah melakukan humor dengan mengorbankan diri sendiri untuk menyenangkan orang lain, seperti menghina diri berlebihan agar terdengar lucu dan membuat lucu orang lain, tertawa bersama orang lain saat dihina, dan semacamnya. Salah satu contoh pernyataan yang paling tepat menggambarkan hal ini adalah “Saya sering mencoba membuat orang lain lebih menyukaiku atau menerimaku dengan mengatakan sesuatu yang lucu tentang kelemahan, blunder, dan kesalahan-kesalahanku.” Termasuk dalam humor jenis ini adalah berlelucon untuk menutupi perasaan negatif atau untuk menghindari menyelesaikan masalah dengan tepat. Contoh pernyataan yang menggambarkan humor ini adalah: “Jika saya memiliki masalah atau merasa tak bahagia, saya sering menutupinya dengan berlelucon, jadi bahkan teman dekat saya pun tahu masalah saya.”

Humor dan Stres

Ada banyak kejadian dalam hidup yang menimbulkan stres tinggi, seperti adanya bencana, konflik hubungan dengan pasangan atau orang lain, tekanan kerja, masalah keuangan, dan sebagainya yang bisa memiliki efek sangat mengganggu kesehatan mental dan fisik seseorang, yang menghasilkan hal-hal negatif seperti gangguan emosi, ketidakmampuan berpikir, hingga gangguan perilaku. Akan tetapi, efek kejadian penuh stres itu tidak sama bagi setiap orang. Seberapa jauh suatu kejadian penuh stres menimbulkan efek tergantung pada cara pandang terhadap kejadian itu dan cara koping (cara mengatasi) terhadap stres. Diketahui, humor membantu dua hal tersebut.

Berikut adalah beberapa kesimpulan penelitian terkait humor dan stres:

  1. Mereka yang secara aktif menciptakan humor untuk melihat sebuah situasi yang potensial menciptakan stres, memiliki respon stres yang lebih rendah, baik dari sisi mood, perilaku maupun fisiologis. Ini memiliki arti bahwa berhumor merupakan strategi yang tepat dalam menghadapi kejadian penuh stres. Kita tidak bisa berharap hidup tanpa stres karena kejadian penuh stres datang bertubi-tubi dalam hidup setiap orang, tetapi kita bisa mengelola stres yang datang sehingga tidak berat kadarnya dan mengganggu. Nah, humor terbukti mampu membantu menghadapi kejadian penuh stres.
  2. Berhumor sebelum kejadian yang potensial menciptakan stres akan mengurangi tingkat stres pada saat kejadian itu terjadi. Jadi, berhumorlah sebelum Anda menghadapi peristiwa yang potensial mencipta stres, seperti ujian, wawancara kerja, dan sebagainya. Jika perlu bawalah buku humor, dan nikmatilah cerita humor sesaat sebelum peristiwa itu. Akan lebih baik jika Anda mengajak orang lain di dekat Anda tertawa.
  3. Mengambil perspektif humor dalam situasi stres memampukan individu mengubah pandangannya dari sebuah ancaman negatif ke tantangan positif, dan meningkatkan perasaan mampu mengontrol situasi. Nah, kondisi tersebut tentunya menjadikan situasi stres menjadi tidak lagi terlalu menekan.
  4. Humor memiliki korelasi negatif dengan harapan tak realistik dan perfeksionis mengenai prestasi dan hubungan sosial. Diketahui, harapan tak realistik dan perfeksionis dalam pencapaian prestasi merupakan sumber stres yang besar karena diri dipicu untuk bertindak di luar kemampuan. Demikian juga harapan tak realistik dan perfeksionis dalam hubungan sosial, akan memicu stres karena hubungan sosial yang dimiliki tidak seperti yang diharapkan, misalnya menyesali diri tidak memiliki banyak teman. Nah, semakin tinggi humor seseorang, maka harapan dalam prestasi dan hubungan sosial akan lebih realistik sehingga mengurangi stres.
  5. Humor memiliki korelasi positif dengan gaya mengatasi stres yang mengambil jarak emosional dengan situasi stres. Artinya, semakin tinggi humor seseorang maka dia akan semakin mengambil jarak emosional dari situasi stres. Kejadian-kejadian stres tidak akan terlalu melibatkan sisi emosionalnya sehingga menjauhkan diri dari efek negatif stres. Pernyataan yang cocok untuk gaya mengatasi stres ini di antaranya adalah: “Tidak akan kubuat situasi ini memurukkanku” atau “Menolak memikirkan situasi itu lebih banyak.”
  6. Humor memiliki korelasi positif dengan gaya mengatasi stres yang konfrontif. Ini berarti, semakin tinggi humor seseorang maka dia akan semakin aktif mengambil peranan untuk menyelesaikan situasi stres-nya. Pernyataan yang cocok untuk gaya mengatasi stres ini di antaranya adalah: “Tetap tegar, dan terus mencapai apa yang kuinginkan” atau “Situasi ini tak akan menghentikanku. Ini tantangan.”

Humor dan Hubungan Sosial

humorcoupletawaHumor merupakan fenomena sosial. Kita berhumor dan tertawa jauh lebih banyak saat bersama orang lain. Bahkan saat menikmati humor sendirian melalui menonton film melihat komedi di TV atau membaca cerita humor pun termasuk pseudo-sosial karena secara virtual orang lain tetap hadir, yakni para aktor/pelawak atau tokoh dalam cerita humor. Humor itu sendiri merupakan salah satu bentuk bermain dalam konteks sosial. Sebagaimana permainan yang lain, tidak ada yang dianggap serius dalam humor: ucapan dan tindakan semata-mata di dilakukan sebagai main-main.

Humor memiliki banyak manfaat dalam hubungan sosial. Berkat hadirnya emosi positif ‘mirth’ pada semua yang menikmati humor, maka mereka yang banyak berhumor dalam pergaulan dianggap sebagai teman menyenangkan dan menjadikan mereka lebih banyak terlibat dalam pergaulan. Nah mereka yang menunjukkan lebih terlibat dalam hubungan sosial dengan orang lain diketahui lebih bahagia, lebih sehat dan hidup lebih lama ketimbang yang hidup terisolasi.

Kepuasan kehidupan berpasangan (rumah tangga atau pacaran) juga bisa dipengaruhi oleh humor. Pandangan bahwa pasangan memiliki selera humor yang tinggi membuat seseorang lebih puas pada pasangannya itu. Tingkat stres yang diderita salah satu pasangan bisa berkurang jika pasangan yang lain memiliki selera humor yang bagus. Secara umum diketahui bahwa hubungan berpasangan yang dihiasi humor memiliki hubungan yang lebih berkualitas dan lebih memuaskan.

———————————————————————————————————–

5. Humor dan Religi

———————————————————————————————————–

Time spent laughing is time spent with the Gods.
— Japanese proverb
 “Religions are among the most powerful natural phenomena on the planet”
(Daniel C. Dennet, 2006)

.

Agama, yakni suatu sistem sosial di mana pengikutnya mengakui suatu kepercayaan terhadap suatu agen supernatural atau agen-agen supernatural yang disepakati untuk dimintai sesuatu, merupakan salah satu fenomena alam di planet bumi yang paling besar kekuatannya, karena sedemikian hebatnya mempengaruhi kehidupan manusia (Daniel C Dennet, 2006). Hampir tak ada satu pun budaya dan satu pun aspek kehidupan manusia yang tak dipengaruhi agama. Dengan lebih dari 2000 agama saat ini yang dianut mayoritas penduduk bumi, agama benar-benar memiliki pengaruh besar dalam kehidupan di planet. Tak heran jika agama terlihat begitu serius dan angker menampakkan dirinya. Tapi alih-alih seserius penampakannya, agama juga bisa mengundang senyum dan tawa. Bahkan justru karena keseriusannya, agama telah menjadi sumber berhumor yang tiada habisnya. Kenyataannya, segala yang serius selalu memiliki sisi lucu sebagai ironinya. Dalam bagian dua buku ini ditampilkan ratusan lelucon atau cerita humor terkait dengan kehidupan religius manusia dan para pemeluk agama-agama, yang merupakan kreativitas manusia menemukan sisi lucu dari fenomena kehidupan keberagamaan di dunia.

humorreligi1Agama, secara umum, ‘tampak’ sepenuhnya serius. Kitab suci agama-agama, terutama agama abrahamik, dengan Torah untuk Yahudi, Injil untuk Kristen dan Quran untuk Islam, jauh dari gambaran humor. Kitab-kitab itu banyak menceritakan kisah menyeramkan, seperti balas dendam dan pembunuhan (bukankah ada kaum yang dihancurkan gara-gara tak patuh?). Di seluruh bagian kitab berisikan harapan pahala sekaligus ancaman bagi pendosa. Dalam berbagai tradisi ritual keagamaan pun tak tampak ada yang tak serius. Bahkan, alih-alih tak serius, secara umum semua tradisi keagamaan terlihat tampak menyeramkan. Akan tetapi, adalah menyesatkan jika menyimpulkan tak ada sisi humor dari agama. Agama memerlukan Tuhan dan manusia. Tanpa Tuhan tak ada agama, tanpa manusia agama pun tak pernah ada karena tak ada pemuja. Agama merupakan pertalian antara manusia dan Tuhan. Dan sejak manusia secara alamiah memiliki selera humor dalam dirinya, secara otomatis sisi berhumor itu pun hadir dalam agama.

Semua aspek dalam agama tak luput dari keisengan manusia untuk dihumori, dari tradisinya hingga polah pemeluknya. Humor-humor itu dilakukan oleh pemeluk agama biasa hingga para pemukanya. Bahkan sebagian pihak menganggap kalau kedalaman penghayatan keagamaan seseorang bisa dilihat dari humor mereka tentang agama sendiri. Mereka yang sanggup berhumor akan agama mereka sendiri menunjukkan kalau mereka orang yang paham betul dengan agamanya sehingga tak lagi merasa terserang atau tersinggung jika agamanya dijadikan bahan berhumor. Mereka telah sedemikian yakin dengan agamanya sehingga berprinsip ‘Tuhan tak perlu di bela.” Mereka pun tak akan tersinggung jika agama mereka dijadikan bahan berhumor orang lain.

Selera humor para Kyai di negeri ini sudah melegenda. Tokoh utamanya tak lain adalah seorang Gus Dur. Mereka tak segan berhumor akan agama Islam, yang merupakan agamanya. Konon, jika mereka bertemu satu sama lain, humor menjadi menu utama. Buku-buku humor-nya para kyai itu, termasuk Gus Dur, berserak di mana-mana. Para pemuka agama lain pun banyak yang terkenal dengan selera humornya. Saat mereka saling bertemu dan bicara: bercengkerama adalah bagian yang tak terpisahkan.

humorreligi2Akan tetapi, tentu tak semua orang setuju agama dijadikan bahan berhumor. Kaum fundamentalis keagamaan (yang ada di setiap agama) tak akan setuju dengan hal tersebut. Bagi mereka, humor apapun terkait agama mereka bisa ditafsirkan sebagai serangan atas agama. Dan itu berarti serangan terhadap diri mereka sebagai pemeluk agama itu. Bagi mereka, agama adalah perkara serius yang tidak boleh menyisakan ruang bagi main-main. Bahkan apapun yang tak terlalu serius akan dianggap penyimpangan dalam beragama.

Ingatkah Anda dengan kasus gambar kartun Nabi Muhammad yang mengenakan pedang, yang dilukis oleh kartunis Denmark? Kasus itu menghebohkan dunia Islam. Demonstrasi berlangsung di berbagai Negara selama berbulan-bulan. Pelakunya dituntut untuk dihukum. Bahkan sebagian pihak mengklaim darahnya halal untuk ditumpahkan. Maksud si kartunis sederhana, dia hanya ingin berhumor.  Akan tetapi bagi sebagian kalangan muslim, hal tersebut dianggap sebagai serangan terhadap agama (maka mereka pun membelanya dengan menghalalkan darah si kartunis). Bagi sebagian yang lain, itu hanyalah pelanggaran norma. Mereka marah bukan karena kehilangan selera berhumor, tapi untuk mencegah Tuhan dan Rasul dijadikan lelucon.

Humor tentang agama bersifat sensitif. Apabila tidak disampaikan di waktu yang tepat dan pada orang yang tepat, maka akan menimbulkan kegusaran, alih-alih kelucuan. Hanya pada mereka yang keagamaannya moderat dan penuh toleransi sajalah yang akan bisa menerima humor apapun tentang agamanya. Oleh sebab itu jarang dijumpai seorang kyai berhumor tentang agama pada orang awam, tapi mereka selalu berhumor ria saat berjumpa sesama kyai lainnya, atau saat berkumpul dengan pemuka agama lain.

Humor untuk kebebasan

Tahukah Anda bahwa orang Yahudi sangat piawai berhumor? Di mana-mana, mereka sangat dikenal dengan humornya. Mereka terbiasa menertawakan diri mereka sendiri dalam berhumor. Saat ini, secara proporsional jumlah komedian Yahudi di Amerika Serikat jauh melebihi jumlah komedian Non-yahudi. Banyak sekali lelucon keagamaan dalam agama-agama lain merupakan modifikasi dari lelucon yang dibuat oleh penganut Yahudi. Para pemuka agama Yahudi, Rabi, lazim berhumor. Humor tentang mereka pun berlimpah ruah. Siapa yang membuatnya? Mereka sendiri.

Tingginya selera humor orang Yahudi diduga akibat situasi mereka yang sering menjadi minoritas yang terkucil di setiap komunitas masyarakat. Dan humor merupakan cara yang dimaklumi untuk mengekspresikan pikiran yang terlarang diungkapkan secara terbuka, sekaligus sebagai cara mengurangi stres. Lantas, setelah bergenerasi-generasi, mereka pun menjadi mahir dalam menciptakan humor dan berhumor.

Apa yang terjadi pada pemeluk Yahudi juga terjadi pada pemeluk agama lain yang minoritas atau yang memiliki pandangan berbeda dengan pihak mayoritas. Sudah bukan rahasia bahwa agama bisa sangat menekan. Orang sulit untuk berbeda paham dengan kelompok mayoritas karena akan dikecam, ditekan atau bahkan dikucilkan. Mereka pun sulit mengungkapkan pikirannya secara terbuka. Alhasil, humor menjadi saluran mereka untuk mengekspresikan kebebasan beragamanya.

Harus diakui, agama terkadang memang memberikan tekanan bagi pemeluknya (bukankah banyak orang mau beribadah hanya agar tak dikecam oleh orang lain belaka?). Mereka yang merasa lebih baik dalam menjalankan agama pun akan dengan senang hati menekan orang lain lewat berbagai ragam cara agar mau lebih patuh pada agama. Beruntunglah ada humor, orang menjadi terhibur dan tahu bahwa ada aspek lucu dalam agama. Bahwa agama ternyata bisa menyenangkan juga.

———————————————————————————————————–

6. Humor dan Seksualitas

———————————————————————————————————–

Bahwa manusia adalah makhluk seksual merupakan fakta tak terbantah. Tidak hanya kurang lengkap, tetapi tidak mungkin mendefinisikan dan memahami manusia jika mengabaikan dimensi seksualitasnya tersebut. Bahkan boleh dibilang, dimensi seksual merupakan dimensi terpenting dari manusia. Bahwa manusia juga merupakan makluk sosial, makhluk yang bermain, makhluk ekonomi dan seterusnya, hanyalah merupakan turunan dari konsep utamanya sebagai makhluk seksual.

humorcoupleRichard Dawkins dalam bukunya “The Selfish Gene” yang menjadi salah satu buku terpenting dalam dunia sains, menyatakan bahwa manusia (dan makhluk hidup semuanya) pada dasarnya hanyalah mesin yang dikreasi oleh gen. Yang hendak melanjutkan hidup adalah gen. Tubuh manusia hanyalah mesin pembawa gen yang bertugas untuk melanjutkan keberlangsungan gen. Ketika tubuh manusia mati, gen akan terus hidup melalui anak keturunan manusia yang membawanya. Itu sebabnya gen memprogram tubuh manusia sedemikian rupa sehingga fokus hidupnya adalah berketurunan dan memastikan keberlangsungan hidup keturunannya. Menurut Profesor Biologi dari Oxford University itu, seksualitas merupakan dimensi terpenting dalam diri manusia karena melalui hal itu keturunan dihasilkan. Kegiatan-kegiatan lain yang bisa dilakukan manusia, tidak lain dan tidak bukan hanyalah penopang untuk memastikan keberhasilan proses tersebut. Pada intinya, apapun yang dilakukan manusia dibingkai tujuan besar, yakni bertahan hidup untuk menyelamatkan keberlangsungan hidup umat manusia. Bukankah mereka yang rela mati berkorban untuk orang lain pun demi harapan orang lain akan selamat?

Apakah seksualitas itu?

Apa yang terpikir di benak Anda ketika mendengar atau membaca kata ‘seks’? Inilah rangkuman jawaban yang diberikan oleh 6 orang yang ditanya pertanyaan tersebut:

Lia          : Hubungan suami istri
Ari          : Seputar hubungan badan. Persetubuhan.
Eko        : Semua hal tentang hubungan seksual.
Iin          : Telanjang. Cowok dan cewek telanjang, lalu begituan.
Danar   : Senggama.
Kina       : Tempat tidur. Gituan.

Seks merupakan kata serapan dari bahasa inggris ‘sex’ yang artinya jenis kelamin. Oleh sebab itu dalam KTP atau berbagai formulir yang mencantumkan data diri dalam bahasa inggris, kata “sex” selalu diikuti dengan keterangan ‘male” (pria) atau ‘female’ (wanita). Tapi rupanya sebagian besar orang Indonesia hanya menyerap total kata-katanya tanpa utuh menyerap artinya. Terjadi pembengkokan makna besar-besaran karena bagi orang Indonesia, kata seks berarti hanya melulu soal seputar senggama. Kondisinya tepat seperti yang digambarkan dalam joke berikut:

“What is your sex?” tanya guru bahasa inggris kepada salah seorang murid kursusnya. Dina pun menjawab, “Just twice this week, Mam!”

Saya sepakat dengan Roland Barthes, bahwa “sang pengarang telah mati”  begitu kata-kata terucap dan tertulis, karena si pengucap atau penulis sudah kehilangan kuasa atas kata-katanya itu. Bukanlah pengucap atau penulis yang memegang otoritas tertinggi dari makna apa yang diucapkan dan ditulisnya. Pendengar dan pembaca yang kemudian menentukan makna kata-katanya itu, dan mereka bebas menentukan tafsirnya sendiri. Begitu kata seks dicerap oleh masyarakat kita, maka masing-masing individu langsung memiliki konotasinya sendiri tentang kata tersebut.

humorsekssDalam artikel ini, kata seks dimaknai lebih luas dari sekedar hal-hal seputar aktivitas yang terkait dengan persetubuhan. Hubungan seks atau persenggamaan hanyalah salah satu aspek. Seks berarti juga berbagai hal yang berpaut dengan adanya perbedaan kelamin. Jadi, termasuk di dalamnya adalah hubungan pria wanita (dari jatuh suka, pacaran hingga pernikahan), perkara gender, sampai anatomi seksual. Jika Anda kurang sreg dengan istilah seks untuk semua hal-hal di atas, maka kata gantinya yang paling tepat adalah seksualitas. Secara definisi, seks atau seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang mengalami, menghayati dan mengekspresikan diri sebagai mahluk seksual, dengan kata lain tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bertindak berdasarkan posisinya sebagai mahluk seksual.

Pembicaraan mengenai seksualitas mencakup pembicaraan tentang kelamin, gender, identitas gender dan identitas seksual, orientasi seksual, erotisme, reproduksi, sampai kelekatan emosional dan relasi seksual. Berikut adalah sinopsisnya: (1) Organ kelamin (sex). Pembicaraan seksualitas diawali dengan kajian mengenai anatomi organ seksual dan seluk beluknya. Ada perempuan dan ada laki-laki. Keduanya berbeda dalam organ seks yang dimiliki. Perempuan memiliki vagina, rahim, dan organ pendukung lainnya. Laki-laki memiliki penis dan organ pendukungnya. Seseorang dianggap perempuan atau laki-laki biasanya cukup ditilik dari organ seks yang dimiliki.

(2) Reproduksi. Kajian reproduksi adalah kajian tentang hubungan seks, persoalan reproduksi dan kesehatan seksual. Meski tentu saja tidak semua hubungan seks dimaksudkan untuk tujuan reproduksi. Kajian mengenai hubungan seks mencakup banyak hal, terentang dari teknik-teknik dalam hubungan seks, upaya meningkatkan gairah seks, studi tentang daerah erotik G-spot, ejakulasi, dan sebagainya. Kajian mengenai reproduksi mencakup perkara kontrasepsi atau pencegahan kehamilan akibat hubungan seks, aborsi, masa pubertas, usia subur dan kesuburan, strategi-strategi untuk memperoleh anak, dan semacamnya. Sedangkan kajian mengenai kesehatan seksual mencakup hubungan seks yang aman dan tidak menyakitkan, penyakit-penyakit akibat hubungan seksual, hingga disfungsi seksual.

(3) Gender. Gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural, dan bukan karena perbedaan biologis. Peran yang diharapkan pada seorang laki-laki, selain membuahi perempuan, adalah termasuk perkara gender. Misalnya menjadi pemimpin rumah tangga, mencari nafkah, bersifat pelindung, berani, dan lainnya. Pun demikian juga, peran perempuan selain dibuahi, mengandung, dan menyusui adalah perkara gender. Pendek kata, segala sesuatu yang membedakan perempuan dan laki-laki namun bukan karena perbedaan biologis adalah persoalan gender. Termasuk dalam kajian gender adalah kekerasan seksual, yakni semua kekerasan yang berawal karena adanya perbedaan seks dan gender. Kekerasan seksual mencakup pemaksaan hubungan seks atau perkosaan, pelecehan seksual, komersialisasi seks, pornografi dan semacamnya.

(4) Identitas seksual. Kajian tentang identitas mencakup bagaimana seseorang menghayati jenis kelaminnya. Jika Anda laki-laki, maka bagaimana menghayati dan merasa diri sebagai laki-laki. Jika perempuan, maka bagaimana menghayati dan merasa diri sebagai perempuan. Termasuk jika merasa diri perempuan tapi terjebak dalam tubuh laki-laki dan sebaliknya merasa laki-laki tapi terjebak dalam tubuh perempuan atau diistilahkan sebagai identitas seksual menyimpang.

(5) Orientasi seksual. Kajian tentang orientasi seksual mencakup bagaimana seseorang memiliki ketertarikan seksual pada seseorang. Jika Anda laki-laki, bisa jadi Anda hanya tertarik pada perempuan saja (heteroseksual), boleh jadi tertarik hanya pada laki-laki saja (homoseksual), atau boleh jadi tertarik pada laki-laki maupun perempuan (biseksual).

(6) Erotisme. Apa yang menyebabkan hasrat seksual Anda naik? Inilah kajian utama erotisme, yakni tentang kemampuan manusia untuk mengalami dan menyadari hasrat dan dorongan seksual, orgasme dan hal-hal lain yang menyenangkan dari seks. Misalnya tentang bagaimana perempuan ‘berdada’ besar dan berbokong besar mengundang hasrat laki-laki dan tentang bagaimana dada bidang dan berotot mengundang hasrat perempuan. Lalu termasuk juga kajian tentang aroma-aroma dan situasi-situasi tertentu yang bisa membangkitkan erotisme.

(7) Relasi seksual dan kelekatan emosional. Pembicaraan tentang seks juga mencakup bagaimana hubungan antara pria dan wanita dalam berbagai konteks, seperti hubungan berpacaran, pernikahan, perselingkuhan, perceraian, dan berbagai aspek hubungan pria dan wanita lainnya. Peranan faktor budaya dan kepercayaan terhadap seks, yang termanifestasi dalam moralitas seksual, juga merupakan kajian penting. Demikian juga dengan kajian tentang kelekatan emosional antara pria dan wanita, yakni kapasitas manusia untuk mengikat diri dengan orang lain yang dibangun dan dijaga dengan emosi. Salah satu jenis emosi yang paling kuat dalam membangun dan menjaga hubungan adalah emosi cinta. Orang menikah, pacaran, atau kumpul kebo, sering didorong oleh adanya emosi cinta.

Itulah semua yang dicakup dalam kata seks atau seksualitas. Jadi, tentu saja tidak sesederhana jawaban 6 orang di atas. Jadi, saat berbicara tentang humor seksualitas, yang dimaksudkan adalah humor pada tujuh area seksualitas di atas, bukan hanya tentang hubungan seksual lelaki dan perempuan.

Mengapa seks menjadi sumber humor?

Sudah bukan rahasia jika humor tentang seks merupakan jenis humor yang paling digemari sekaligus paling melimpah. Situs-situs humor yang ada di internet selalu memiliki kesamaan dalam hal trafik lalu lintas pengunjung: konten humor seksualitas jauh lebih banyak dikunjungi ketimbang konten humor lainnya. Humor seks juga merupakan humor yang paling banyak dimunculkan dalam percakapan keseharian. Mengapa demikian? Mengapa seks menjadi sumber berhumor yang paling besar dan paling diminati?

Kita tahu bahwa humor merupakan cara yang diakui dan dimaklumi untuk mengungkapkan pikiran-pikiran yang dianggap tabu atau terlarang. Nah karena seks sedemikian banyak memiliki tabu-tabu (bukankah membicarakan seks secara terbuka banyak ditabukan?) maka humor mengambil alih. Dan sejak seks merupakan dimensi manusia yang terpenting sekaligus terkuat mempengaruhi manusia, maka tak mengherankan jika humor tentang seks paling berlimpah ruah di tengah kita.

0109-SE-W601.01Salah satu fenomena seksualitas negatif yang masih menggejala saat ini adalah sikap dan perilaku seksis atau sikap dan perilaku merendahkan perempuan atau homoseksual. Di satu sisi, sikap dan perilaku tersebut dinilai negatif dan rendah, dan dengan demikian tabu untuk diungkapkan terbuka di ruang publik, di sisi lainnya masih sangat banyak lelaki yang seksis. Mereka, kaum lelaki yang seksis tidak memandang perempuan sebagai pihak yang setara dengan lelaki; perempuan dipandang lebih rendah dan hanya sebagai subordinat lelaki. Mereka adalah orang-orang yang memandang negatif dan bermusuhan kaum perempuan yang bekerja di luar peran tradisional.

Sebagian humor seks pun bersifat seksis atau merendahkan pihak perempuan. Humor-humor itu terus melanggengkan ketidaksetaraan antara lelaki dan perempuan. Diketahui, mereka yang seksis lebih merasakan kelucuan pada humor seksis ketimbang mereka yang kurang seksis. Orang yang kurang seksis biasanya lebih memandang serius humor-humor yang merendahkan perempuan. Artinya, tingkat seksis-me seseorang menentukan seberapa jauh penikmatannya terhadap humor seksis: semakin tinggi tingkat seksis-nya maka semakin menikmati humor seksis. Hal ini juga berarti bahwa jumlah humor seksis yang beredar di suatu komunitas menggambarkan tingkat seksis-me di komunitas itu: semakin tinggi jumlahnya maka semakin seksis-lah komunitas tersebut.

Humor seksis memiliki banyak ekses negatif. Salah satu ekses yang paling terlihat adalah rasa terserang pihak perempuan saat mendengarnya. Diketahui perempuan lebih merasa terserang jika humor seksis diceritakan laki-laki, ketimbang jika diceritakan perempuan karena dirasakan sebagai serangan langsung pihak lelaki pada perempuan. Bagi lelaki seksis, penikmatan terhadap humor yang seksis cenderung meningkatkan diskriminasi terhadap perempuan serta meningkatkan toleransi atau penerimaan terjadinya diskriminasi seksual.

Bukti-bukti kuat penelitian menunjukkan bahwa humor dengan mengorbankan/ merendahkan satu pihak akan mempertinggi sikap negatif terhadap pihak itu. Misalnya, humor yang mengorbankan pengacara akan mempertinggi sikap negatif terhadap pengacara. Dalam konteks humor yang mengorbankan/merendahkan perempuan, dengan sendirinya humor sejenis itu akan meningkatkan sikap negatif terhadap perempuan. Ini artinya, humor seksis tidak memberikan manfaat bagi upaya kesetaraan antara lelaki dan perempuan. Dan fakta bahwa humor seksis begitu berlimpah ruah di tengah kita hanya menunjukkan kalau kita adalah masyarakat yang seksis.

———————————————————————————————————–

7. Humor & Pernikahan

———————————————————————————————————–

Kehidupan pernikahan merupakan bentuk kehidupan yang menghabiskan sebagian besar waktu hidup mayoritas orang di seluruh dunia. Rerata, 2/3 umur manusia dihabiskan dalam status menikah. Sayangnya, tidak semua orang mengalami kehidupan pernikahan yang membahagiakan. Sebuah sumber menyebutkan bahwa mereka yang benar-benar berbahagia hanya berkisar 20% dari jumlah pasangan menikah. Sisanya memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah atau malah hanya memiliki stres dalam kehidupan pernikahannya. Akan tetapi meskipun banyak pernikahan yang tidak membahagiakan, diketahui bahwa mereka yang menikah cenderung lebih berbahagia daripada mereka yang tidak menikah. Laki-laki menikah dan perempuan menikah lebih bahagia daripada mereka yang tidak pernah menikah, bercerai atau berpisah. Pada orang-orang yang tidak menikah, rata-rata bunuh diri dan depresinya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang menikah. Sebuah survei yang dilakukan National Institute of Mental Health di Amerika Serikat menemukan bahwa rata-rata tingkat depresi meningkat dua sampai empat kali lipat lebih besar pada orang dewasa yang tidak menikah.

humormarriage-thoughtsPernikahan bisa sangat menekan. Beragam permasalahan yang ada, dari masalah seksual, finansial, anak, komunikasi, hingga kekerasan bisa menimbulkan stres berat dan berkepanjangan. Diketahui, mayoritas kekerasan yang terjadi di dunia merupakan kekerasan di dalam rumah tangga, di mana sebesar 95% pelaku kekerasan adalah laki-laki dan hanya 5% pelaku kekerasan merupakan perempuan. Total diperkirakan 1 di antara 3 perempuan di seluruh dunia pernah mengalami kekerasan, dan sebagian terbesar kekerasan itu terjadi dalam rumahtangga. Sekitar 80% perempuan yang mencoba bunuh diri memiliki alasan karena telah mengalami kekerasan dari pasangannya, baik suami atau kekasih. Di seluruh dunia, 1 dari 4 perempuan hamil mengalami kekerasan oleh suaminya baik kekerasan seksual maupun kekerasan fisik. Diperkirakan 40% hingga 70% lebih pembunuhan terhadap perempuan juga dilakukan oleh pasangan intimnya dalam konteks relasi yang penuh kekerasan.

Akan tetapi, betapapun tak membahagiakannya pernikahan itu, di sisi lain orang sulit untuk mengakhiri pernikahan. Konsekuensi mengakhiri pernikahan seringkali lebih berat daripada konsekuensi melanjutkan pernikahan. Masyarakat jauh lebih menghormati mereka yang menikah dan mereka yang berhasil mempertahankan pernikahan ketimbang mereka yang tidak menikah dan gagal dalam pernikahan. Masyarakat juga mengharapkan anggotanya untuk bersikap dan bertindak menjunjung tinggi pernikahan dan menganggapnya sebagai hal terbaik yang akan memberikan kehidupan terbaik.

Perbedaan antara harapan dan realitas yang dihadapi para pelaku pernikahan memunculkan berlimpahnya humor tentang kehidupan pernikahan. Di satu sisi, pernikahan memberikan harapan besar kebahagiaan, di sisi lain memberikan stres tiada henti. Ketika orang tak bisa mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka terhadap kehidupan pernikahan karena memang terlarang untuk kecewa sejak pernikahan dianggap suci, maka humor menjadi pelarian. Tidak mengherankan jika humor-humor tentang kehidupan pernikahan didominasi tema permasalahan pernikahan: perselingkuhan dan kekecewaan akan pernikahan.

Humor tentang pernikahan biasanya dicetuskan dan diobrolkan terutama oleh pihak lelaki. Hal tersebut terjadi karena superioritas lelaki dalam keluarga. Akan tetapi di sisi lain mereka juga menghadapi berbagai masalah dalam pernikahan, dan tak bisa serta merta mengakhiri pernikahan. Betapa pun superiornya lelaki, mereka terikat dalam tata aturan masyarakat yang menghendaki lelaki harus mengutamakan keluarga. Humor pun menjadi jalan mereka untuk melepaskan diri dari masalah itu. Oleh karena itu, diduga jumlah humor tentang permasalahan keluarga yang ada dalam suatu komunitas bisa menjadi indikator seberapa besar kekuasaan lelaki di dalam keluarga di dalam komunitas itu. Semakin banyak jumlahnya maka berarti semakin kuat peran lelaki dalam keluarga di komunitas tersebut.

Berbagai dimensi dalam kehidupan pernikahan menjadi sumber humor yang tak pernah kering, mulai dari soal mencari jodoh, upacara pernikahan, selingkuh, mertua, anak, dan semua hal lainnya. Maklum, mayoritas orang dewasa berada dalam status menikah dan mereka yang belum menikah mayoritasnya menginginkan pernikahan. Dengan sendirinya, pernikahan terus menerus menjadi bagian terbesar dalam kehidupan manusia dengan berbagai kompleksitas permasalahannya. Dan humor menjadi pemanisnya.

Humor untuk memilih pasangan

Humor memiliki peranan penting dalam kehidupan pernikahan, mulai dari untuk menyeleksi pasangan hingga untuk mempertinggi kualitas kehidupan pernikahan. Diketahui, selera humor  merupakan salah satu kriteria penting bagi lelaki maupun perempuan dalam memilih pasangan. Mereka yang pandai berhumor selalu dipandang lebih menarik, baik bagi lelaki maupun bagi perempuan. Umumnya lelaki menyukai perempuan yang mampu tertawa atas lelucon yang dibuatnya, sedangkan perempuan lebih menyukai lelaki yang mampu membuatnya tertawa. Di sisi lain, terdapat kecenderungan untuk menilai seseorang lebih lucu jika dia memang menarik.

humorfbDalam penelitian yang dilakukan oleh David M. Buss, seorang tokoh psikologi evolusioner, ditemukan bahwa dari 101 daftar taktik untuk menarik lawan jenis yang dirating oleh lelaki maupun perempuan, “menampilkan selera humor yang bagus” merupakan cara yang paling efektif dalam menarik lawan jenis. Sampai-sampai sebuah buku populer menyarankan demikian: “Ingat ini: Anda ingin membuat perempuan tertawa. Jika Anda bisa membuat perempuan tertawa… dia akan ingin bertemu dengan lagi dengan Anda.”

Diketahui, lelaki yang menarik secara fisik akan menjadi lebih menarik lagi jika mampu berhumor yang mencela/mengorbankan diri sendiri di depan perempuan. Mereka yang mampu berhumor itu dilihat lebih menyenangkan, lebih humanis, serta kurang memberikan rasa mengancam daripada lelaki tampan yang tidak humoris. Akan tetapi lelaki yang menggunakan humor yang dipersepsi mengancam, misalnya humor seksis atau berhumor sang perempuan mirip mantan kekasih, justru akan membuatnya menjadi tidak menarik. Jadi, berhumorlah secara sehat, dan Anda akan tampak lebih menarik.

Humor untuk meningkatkan kualitas pernikahan

Humor sangat mempengaruhi kualitas kehidupan pernikahan. Pasangan yang kurang berbahagia memiliki humor, tersenyum dan tertawa yang lebih sedikit dibanding pasangan yang lebih berbahagia. Adanya humor mendorong kesetaraan antara suami dan istri. Tertawa bersama atas suatu topik menjadikan mereka secara psikologis sejajar satu sama lain. Kesejajaran itu memperkokoh hubungan. Humor juga menjadi indikator keluarga yang kokoh. Diketahui, humor membantu anggota keluarga untuk merasakan kedekatan emosional satu sama lain. Tingkat stres dalam pernikahan diketahui berkurang seiring dengan semakin tingginya humor para pelakunya.

Humor tidak selalu sehat. Terkadang, humor yang dilakukan seseorang justru membuat jarak psikologis yang lebar karena ada yang tersakiti atau direndahkan. Diketahui, para suami yang sering berhumor merendahkan istrinya, sarkastik, dan mengolok-olok justru akan membuat sang istri menjauh secara psikologis dari suaminya. Hal tersebut tentu memperburuk kualitas kehidupan pernikahan mereka. Ironisnya, hal tersebut sering terjadi. Diyakini cukup banyak suami membuat olok-olok tentang istri mereka hingga membuat sang istri malu berat karena humor itu membicarakan kelemahan istri. Boro-boro istri akan merasakan kelucuan dan tertawa senang, yang ada istri merasa tersinggung dan tertekan. Istri pun lantas merasa tersubordinasi atau merasa di bawah kekuasaan suami sepenuhnya.

Ceritanya akan berbeda jika pihak istri juga memiliki kesempatan yang sama dalam berhumor merendahkan, sarkastik dan mengolok-olok suami, karena dengan demikian terdapat kesetaraan dalam berhumor. Dalam kondisi demikian, humor yang tidak sehat tidak terlalu buruk dampaknya. Istri bisa membalas ketika suami mengolok-olok. Mereka pun bisa tertawa bersama ketika saling olok.

Humor mempengaruhi kepuasan terhadap pasangan. Semakin tinggi seorang suami menilai selera humor istrinya, maka dia semakin puas akan istrinya dan akan semakin puas dengan pernikahan yang dijalaninya. Sebaliknya, semakin tinggi persepsi istri bahwa suami semakin humoris, maka juga akan semakin tinggi kepuasan sang istri, namun hanya jika sang suami melakukan humor yang sehat (bukan humor yang seksis atau merendahkan istri). Hal ini menunjukkan bahwa sifat humoris memang merupakan sifat yang sangat diinginkan.

———————————————————————————————————–

8. Humor & Psikologi

———————————————————————————————————–

Humor adalah proses psikologis. Saat berhumor, seluruh aspek psikologis manusia terlibat di dalamnya, mulai dari mempersepsi adanya inkongruensi, mendapatkan ‘insight’ atau pemahaman adanya sesuatu yang lucu, merasakan kelucuan, munculnya emosi senang karena lucu (‘mirth), hingga memberikan respon berupa senyum atau tertawa. Proses kognitif, emosi, dan perilaku terlibat bersama-sama dalam menciptakan humor. Oleh karena itu, jika Anda berpikir bahwa kalau begitu semua humor termasuk humor psikologi karena humor memang proses psikologis dalam diri manusia, maka Anda tidak keliru. Akan tetapi yang dimaksud dengan humor psikologi dalam buku ini merujuk pada materi humor yang mengambil tema dunia psikologi sebagai ilmu.

humorrsekPsikologi merupakan ilmu yang mempelajari proses mental manusia; baik dalam aspek kognitif, afektif maupun perilaku. Seluruh proses-proses itu dipelajari secara ilmiah melalui suatu standar penelitian yang diakui di kalangan ilmiawan untuk menghasilkan suatu temuan penelitian yang terpercaya. Di sisi lain, masyarakat umum juga sering memiliki ilmu psikologinya sendiri yang tidak berasal dari penelitian ilmiah, tetapi berasal dari dugaan-dugaan atau stereotip, yang kadang tepat tapi juga seringkali tidak benar (ilmu psikologi ini sering disebut pseudo-psikologi). Sebagai contoh, di tengah masyarakat kita banyak beredar keyakinan tentang tipe-tipe sifat orang tertentu yang bisa dilihat dari bentuk kuku, bentuk alis, bentuk jempol, bentuk wajah dan sebagainya. Kebanyakan dari keyakinan semacam itu keliru, tapi toh keyakinan itu tertanam kuat dalam masyarakat kita.

Salah satu kesamaan antara psikologi ilmiah dan pseudo-psikologi adalah keyakinan  bahwa setiap orang memiliki pola-pola tertentu dalam berperilaku, berpikir dan beremosi. Pola-pola itu dikenali sebagai tipe-tipe orang. Cara mengenalinya dengan melihat apa yang diekspresikan orang itu, misalnya melalui tindakan-tindakannya, ungkapan pikirannya, atau kondisi-kondisi emosionalnya dalam berbagai situasi. Bagaimana cara seseorang menanggapi sebuah situasi akan memperlihatkan tipe orang tersebut (masyarakat sering menyebutnya sebagai ‘jati diri’). Nah, humor tentang tipe-tipe orang ini merupakan jenis humor psikologi yang paling banyak beredar. Tidak aneh memang, sebab memang asyik menghubung-hubungkan antara apa yang dilakukan orang dengan tipe yang dimilikinya. Sebagai contoh, ada humor mengenai “tipe-tipe lelaki dilihat dari cara pipisnya”, “tipe gadis di era komputer”, “perbedaan pria dan wanita” atau “maksud yang sebenarnya dikatakan wanita” (lupakan akurasinya, karena ini hanya untuk berhumor).

Tentu saja psikologi bukan hanya ilmu yang mempelajari tipe-tipe orang. Ada banyak hal lain yang dipelajari, misalnya gangguan mental, perilaku anak, stres, hubungan sosial, pernikahan, konflik, dan seluruh proses-proses psikologis di berbagai lapangan kehidupan manusia lainnya. Masing-masing hal tersebut juga memiliki sisi humor yang tak kalah serunya. Ini artinya, sedemikian luasnya bidang kajian psikologi menyebabkan humor psikologi banyak tumpang tindih dengan humor-humor dalam tema lainnya.  Hal tersebut tidak mengherankan karena apapun humor tema lainnya, misalnya tema seksualitas atau religi, selalu melibatkan sisi psikologis manusia. Dengan sendirinya tumpah tindih tak terelakkan.

humorrelationship-humourIlmu psikologi juga merupakan ilmu terapan. Para praktisi yang memberikan jasa terapi psikologi untuk penyembuhan masalah psikologis terentang dari konselor, psikolog dan psikiater. Mereka menangani klien/pasien gangguan mental, dari gangguan mental ringan seperti stres hingga gangguan mental berat seperti skizofrenia. Nah, kondisi klien yang terganggu mentalnya merupakan salah satu sumber lelucon yang banyak sekali beredar di kalangan psikologi. Hubungan antara terapis dan klien juga menyimpan sisi humor yang luar biasa banyaknya. Bentuk terapi-terapi psikologi-nya pun menjadi gudang kelucuan. Sayangnya, untuk humor yang materinya sudah bersifat teknis dalam psikologi, hanya orang-orang yang bergelut dalam psikologi yang bisa benar-benar memahaminya karena memerlukan pemahaman khusus akan berbagai term dalam dunia psikologi.

Tahukah Anda pameo berikut: “Setiap orang terlihat normal sampai Anda mengenal mereka.” Itulah kita. Sampai sebelum mengenal seseorang, kita akan menganggapnya normal dan baik-baik saja. Setelah mengenalnya, kita baru tahu ada yang agak tak normal darinya. Begitu juga dalam berhumor. Dari jauh, kita hanya mendapat kesan kalau psikologi merupakan ilmu yang serius dan angker (bukankah banyak orang enggan dekat-dekat dengan ‘orang psikologi’ karena takut ‘dibaca?’), tapi setelah mendekat dan tahu, sadarlah kita betapa banyak humor di dalamnya.

———————————————————————————————————–

9. Humor dan Dunia Kerja

———————————————————————————————————–

I never did a day of work in my life—it was all fun!
— Thomas Alva Edison
 
When work is a pleasure, life is joy! When work is a duty, life is slavery.
— Maxim Gorky 

Selama beberapa dekade lalu, dunia kerja dilingkupi keyakinan bahwa keseriusan merupakan kemutlakan. Akibatnya, humor tidak dianggap sebagai bagian yang diijinkan terjadi dalam lingkungan kerja. Seorang bos akan berperilaku sangar dan serius di depan bawahan; si bawahan pun diharapkan memperlihatkan keseriusan di muka bos. Tertawa bersama bos atau bersama bawahan adalah sesuatu yang tabu. Mereka yang banyak berhumor dianggap kurang berkompeten dibandingkan mereka yang serius. Tapi sejak dekade terakhir, terutama pada abad 21, humor justru dianggap sebagai bagian penting yang seharusnya diinjeksikan dalam lingkungan kerja. Perubahan 180 derajat itu dipicu oleh berbagai penelitian yang menunjukkan betapa efektifnya humor dalam meningkatkan produktivitas kerja. Kini, perusahaan-perusahaan modern umumnya tidak lagi menganggap humor di tempat kerja sebagai tabu; karyawan yang berhumor tidak lagi dianggap tidak serius dan tidak kompeten dengan pekerjaannya. Tren belakangan ini malah berupa merekrut para konsultan humor untuk membudayakan humor di perusahaannya.

Humor memperlancar komunikasi bisnis

Komunikasi adalah aktivitas terpenting dalam setiap bisnis. Menurut statistik terbaru diketahui bahwa manajer paling atas menghabiskan 94% jam kerjanya untuk berkomunikasi atau dalam menyiapkan komunikasi. Manajemen menengah menghabiskan 80% waktunya, dan di bawah hirarkinya menghabiskan 70%. Rapat atau pertemuan menghabiskan 53% waktu komunikasi, pembicaraan di telepon 16%, komunikasi tertulis 25%, dan sisanya dihabiskan untuk mempersiapkannya. Intinya, semua orang dalam perusahaan adalah komunikator; masing-masing mengirim dan atau menerima pesan komunikasi. Perusahaan tak akan berjalan tanpa komunikasi yang baik.

humorworkAgar komunikasi bisa berlangsung baik, setiap orang harus memperhatikan pesannya. Artinya mereka harus mendengarkan dan mengingatnya betul dalam pikiran. Dalam menulis pesan tertulis pun demikian, Anda harus memastikan penerimanya membaca dengan hati-hati dan mengingat isinya. Dan humor akan membuat orang mendengarkan, memperhatikan, dan mengingat pesan-pesan dalam komunikasi menjadi lebih baik. Melalui humor, Anda bisa mendapatkan perhatian dari orang lain, membantu mereka mengingat pesan Anda, dan membuat mereka dalam suasana hati positif yang akan mengikuti perkataan Anda. Faktanya, para sales yang banyak menggunakan humor dalam menawarkan produknya memiliki tingkat penjualan yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang tidak menggunakan humor.

Presentasi bisnis yang bisa mengundang tawa para hadirin juga diketahui membuat peluang hasil presentasi itu diterima menjadi lebih besar. Saat tertawa tergelak-gelak, audience akan merasakan suasana hati positif sehingga cenderung memberikan penilaian lebih baik. Itu kenapa dalam dunia bisnis muncul pameo “konsep terbaik tidak selalu menang, penyampaian terbaik yang akan selalu menang.” Dan penyampaian terbaik adalah yang bisa merebut perhatian, dan yang bisa merebut perhatian adalah konsep yang sangat luar biasa atau yang disampaikan denga  berhumor.

Humor diketahui memompa semangat karyawan untuk melakukan tugas-tugas sulit. Dengan berhumor, suatu tugas yang dirasa sulit akan terasa lebih mudah. Hal ini menyebabkan penyelesaian tugas-tugas sulit yang lebih cepat.

Diketahui, efektivitas kepemimpinan terbantu berkat humor. Para pemimpin yang lebih banyak berhumor dinilai sebagai pemimpin yang lebih efektif sekaligus mendapatkan loyalitas lebih tinggi dari bawahan. Saling olok antara bawahan dan atasan bisa memunculkan kesetaraan dalam lingkungan kerja yang membuat setiap orang mau menelurkan ide-idenya secara terbuka. Mereka pun menjadi lebih sering berkomunikasi satu sama lain sehingga koordinasi menjadi semakin bagus.

Humor mencegah dan mengurangi stres kerja

humorworkkSeperti yang telah dikemukakan di bagian terdahulu, humor bisa mencegah dan mengurangi stres. Humor membuat seseorang terpisah dari situasi yang dihumorinya. Apabila dalam situasi penuh tekanan atau stres berhasil ditemukan humornya, maka orang akan segera merasakan jarak terhadap situasi atau keadaan itu. Hal tersebut mengurangi tingkat stres yang dialami dalam situasi penuh stres. Humor juga menjadi cara agar ancaman terhadap harga diri atau citra diri seseorang tidak terlalu menimbulkan stres. Sebagai contoh, saat seseorang yang lebih muda dipromosikan lebih cepat, maka seseorang bisa berhumor untuk mengenyahkan rasa terancam pada harga dirinya karena dikalahkan yang muda.

Humor mencegah stres juga berkat kemunculan emosi positif ‘mirth’ yang muncul dari berhumor. Saat seseorang atau sekelompok orang berhumor ria, masing-masing orang yang terlibat akan mengalami pengalaman emosi positif. Keberadaan emosi positif tersebut akan mencegah seseorang dari stres kerja atau menurunkan stres kerja. Emosi positif yang muncul di antara para karyawan juga meningkatkan keterikatan satu sama lain. Hal tersebut membuat mereka merasa lebih memiliki dukungan di tempat kerja dan merasakan identitas sosial yang kuat dengan kelompok, dan dengan begitu mengurangi risiko stres. Seperti diketahui, salah satu sumber stres utama adalah terisolasi dari pergaulan sosial. Nah, berkat humor, masing-masing orang akan menjadi lebih erat satu sama lain.

Peran humor dalam mencegah dan mengurangi stres kerja sangat penting. Berbagai penelitian secara konsisten menunjukkan kalau stres kerja menyebabkan kerugian yang beberapa kali lipat lebih besar ketimbang sakit fisik. Salah mengambil keputusan, terlambat mengantisipasi masalah, tidak tanggap menangkap peluang, pertengkaran antar karyawan, penanganan keluhan konsumen yang tidak bagus, atau salah dalam menangani pekerjaan merupakan sebagian hal yang dimunculkan dari stres kerja. Semua itu menimbulkan risiko kerugian yang besar bagi perusahaan. Oleh karena itu, sekarang ini banyak sekali perusahaan modern berusaha membudayakan humor di tempat kerjanya sebagai upaya untuk mencegah atau mengurangi tingkat stres kerja. Berkat budaya humor, selain produktivitas meningkat, kerugian yang harus ditanggung akibat adanya stres kerja juga menurun jauh (itu artinya meningkatkan keuntungan karena berkurangnya kerugian).

Para penyedia perusahaan jasa mengakui betapa pentingnya humor dalam bisnis mereka. Sebagai contoh, hotel yang pegawainya banyak membuat tamunya tertawa ria karena humor memiliki tingkat hunian lebih baik. Berkat humor, para tamu yang pernah datang ke hotel tersebut akan mengingat kuat hotel itu dan cenderung untuk kembali lagi di kemudian hari. Para bellboy yang memiliki selera humor yang lebih bagus pun diketahui menerima uang tips dari para tamu yang lebih besar daripada mereka yang kurang memiliki selera humor. Para tamu itu cenderung menilai hotel yang membuatnya mampu tertawa, lebih memuaskan meskipun fasilitasnya tidak lebih baik ketimbang hotel lainnya.

Humor bisa mencegah dan mengurangi konflik kerja

Oleh karena bekerja selalu melibatkan orang lain, tak ayal kadang konflik-konflik pribadi bermunculan. Apabila tak terjembatani dengan baik bisa saja menghasilkan ketegangan yang merusak harmoni kerja dan menurunkan peluang keberhasilan kerja. Adanya humor yang dikelola dengan baik bisa menjadi solusi menurunkan konflik-konflik itu. Rumusnya sederhana; buat semua pihak yang berkonflik tertawa bersama, maka masalah akan terselesaikan.

Humor bisa menjadi sarana untuk menegur atau mengingatkan kesalahan rekan kerja, atasan atau bawahan tanpa membuat malu. Melalui humor, sebuah teguran bisa membuat seseorang terhindar dari kehilangan muka. Melalui humor pula, suatu friksi atau ketegangan di tempat kerja menjadi tidak terlalu terasa kuat.

Akan tetapi, humor tak selalu menghasilkan efek positif. Humor yang agresif (menyerang atau mengolok-olok orang lain) justru bisa merusak. Humor yang tidak disampaikan pada saat yang tepat juga bisa berefek tidak bagus. Terkadang ketegangan atau konflik muncul karena humor yang tidak bijak. Tersinggung merupakan salah satu akibat negatif umum dari humor yang tidak tepat itu.

Humor juga bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, humor bisa menjadi senjata ampuh untuk menegur atau mengkritik tanpa menimbulkan malu atau kehilangan muka. Di sisi lain, humor juga bisa membuat teguran atau kritik yang disampaikan tidak sampai ke sasaran. Mereka yang ditegur atau dikritik melalui humor bisa tidak cukup peka memahami apa maksud yang sebenarnya dari humor yang disampaikan.

Humor memupuk loyalitas karyawan

humorworkkkkSalah satu peran humor terpenting adalah merekatkan ikatan di antara orang-orang yang berhumor bersama. Saling berhumor dan tertawa bersama membuat mereka merasa memiliki kelompok pendukung sosial yang sangat penting bagi kehidupan berkualitas. Lantas, mereka pun akan menilai memiliki tempat kerja dan rekan-rekan kerja yang menyenangkan. Penilaian positif tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan loyalitas pada perusahaan. Mereka cenderung enggan berpindah tempat kerja meskipun mendapatkan tawaran gaji yang lebih menarik. Hal tersebut terutama berlaku di Negara-negara yang memiliki budaya kolektif seperti Italia, Jepang, Cina, Indonesia, India, dan lainnya.

Era saat ini berbeda dengan era beberapa dekade lalu. Saat ini, orang menuntut situasi kerja yang menyenangkan. Orang cenderung berpindah kerja bukan karena tawaran gaji lebih baik tapi karena adanya peluang kerja yang lebih menyenangkan. Pekerjaan-pekerjaan yang cenderung membosankan, meskipun digaji tinggi cenderung tidak dapat mempertahankan karyawannya. Rata-rata mereka hanya bekerja dengan alasan agar bisa mengumpulkan uang. Setelah dirasa cukup uang yang didapat, mereka akan berpindah kerja.

Humor meningkatkan efektivitas organisasi

Dari keterangan di atas bisa dikatakan bahwa humor bisa turut meningkatkan efektivitas organisasi, baik dari sisi proses-proses dalam kelompok (misalnya komunikasi menjadi lebih baik, berkurangnya ketegangan dan friksi antar karyawan, manajemen emosi karyawan yang lebih baik, dan lainnya) maupun dari sisi output (misalnya produktivitas kerja, kesinambungan organisasi, dan lainnya). Secara keseluruhan bisa disimpulkan bahwa humor yang berhasil ditanamkan dalam suatu organisasi akan menghasilkan hal-hal berikut:

  • Meningkatkan kuantitas maupun kualitas komunikasi dalam suatu organisasi yang akan berujung pada peningkatan produktivitas organisasi.
  • Meningkatkan kemampuan pemimpin (bagi pemimpin yang sukses menyuntikkan humor) dalam mengelola emosi karyawan, yang akan berujung pada peningkatan produktivitas organisasi.
  • Meningkatkan performa kerja yang berorientasi kelompok yang akan berujung pada peningkatan produktivitas organisasi.
  • Meningkatkan penerimaan dan konsensus bersama terhadap tujuan kelompok yang akan berujung pada peningkatan produktivitas organisasi.
  • Meningkatkan persepsi rasa nyaman secara psikologis yang meningkatkan keterlibatan dalam kelompok.
  • Meningkatkan atmosfer emosi positif dalam kelompok dan dengan demikian mendukung kesinambungan kelompok.
  • Meningkatkan kohesi (keterikatan) kelompok dan dengan demikian mendukung kesinambungan kelompok.
  • Mengurangi pengunduran diri dan dengan demikian mendukung kesinambungan kelompok.

Hm.. banyak bukan manfaatnya?

———————————————————————————————————–

10. Humor Dunia Akademik & Keilmuan

———————————————————————————————————–

“Laughter removes the burden of seriousness from the problem, and
often times it’s that very serious attitude that is the problem itself!”
—Bob Basso

Inilah stereotip umum tentang akademisi atau ilmuwan: berkacamata tebal, berpakaian itu-itu saja, jarang bicara, jarang senyum, tak suka melucu, dan pasang muka sangar. Tak ada yang jenaka dari mereka. Tapi benarkah stereotip itu? Ternyata, stereotip tentang mereka benar belaka, akan tetapi juga tak benar sepenuhnya. Sama seperti orang-orang yang berkecimpung dalam bidang lainnya, sebagian ada yang kurang baik selera humornya dan sebagian penuh humor. Sungguh tidak tepat mengklaim semua akademisi dan ilmuwan tak berselera humor.

humoreinsteinAnda pasti mengenal, Albert Einstein, si ilmuwan paling tersohor di muka bumi, yang nama dan wajahnya menjadi ikon dunia sains, dan temuan rumusnya menjadi rumus sains paling terkenal dalam sejarah dunia, yang bahkan gaya rambutnya yang jabrik menjadi gaya rambut ikon para ilmuwan. Alih-alih bersosok serius, dia dikenal sebagai orang yang sangat humoris. Lihat saja fotonya, gaya ekspresi menjulurkan lidah seperti itu, hanya mau dilakukan oleh mereka yang humoris. Abraham Pais, dalam buku biografi Einstein yang paling diakui, menulis, “I never read tragedy in his face. An occasional touch of sadness in him never engulfed his sense of humor.” Di antara teman-temannya, Einstein memang kondang memiliki selera humor yang tinggi.

“Imagination is more important than knowledge” ujar manusia yang ditasbihkan oleh majalah Time sebagai “man of the century” (manusia abad ini). Pernyataannya itu jelas sekali menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang tidak berselera humor. Dia berkeyakinan bahwa imajinasi, termasuk memandang suatu persoalan melalui sisi lucunya, bisa menjadi kekuatan dahsyat, yang bisa melebihi kekuatan keseriusan dalam memecahkan permasalahan.

humorfenmanIlmuwan termasyhur lain yang tersohor selera humornya adalah Richard P. Feynman, yang merupakan fisikawan paling terkemuka setelah era Perang Dunia 2. Sumbangannya sangat besar dalam bidang Fisika Kuantum, dan memberinya penghargaan Nobel tahun 1965. Bukunya yang merupakan kompilasi kuliahnya di  California Institute of Technology (Caltech), yang diberi judul “The Feynman Lectures on Physics” merupakan salah satu dari 10 buku  sains terpenting sepanjang sejarah. Kuliah-kuliahnya selalu dipenuhi mahasiswa karena gaya penyampaiannya yang penuh humor tapi sekaligus mudah ditangkap. Tak heran jika dia sering di undang untuk memberikan kuliah di berbagai tempat di seluruh dunia.

Salah satu bukti selera humor ilmuwan ini adalah kumpulan kisahnya yang dibukukan, yang berjudul “Surely You’re Joking, Mr. Feynman!” yang menjadi bestseller selama bertahun-tahun karena lucunya kisah-kisah di dalamnya. Dalam pengantarnya, Albert R. Hibbs, anggota senior staf teknik, Jet Propulsion Laboratory, NASA, di California Institute of Technology, menuturkan: “Saya ingat ketika saya menjadi mahasiswanya, saat berjalan ke kelas salah satu kuliahnya. Dia berdiri di depan, sembari tersenyum pada kami semua yang datang, jarinya mengetuk-ngetuk meja demo yang ada di depannya dalam ritme yang kompleks. Bersamaan dengan datangnya mahasiswa terakhir yang telat telah duduk, dia mengambil kapur dan mulai memutar-mutar dengan cepat di jarinya seperti para pemain judi poker profesional dengan chip poker, tetap dengan tersenyum seolah-olah ada lelucon rahasia. Dan lalu –tetap tersenyum- dia bicara pada kami tentang fisika, diagramnya, dan rumus-rumusnya untuk berbagi kepada kami apa yang diketahuinya. Bukanlah lelucon rahasia yang membuatnya tersenyum dan berbinar matanya, tapi fisika. Kebahagiaan dalam fisika! Kebahagiaan itu menular. Kami semua beruntung telah terkena infeksinya…”

Berbeda dengan Einstein yang sangat jarang mengajar di depan kelas, Feynman justru seorang pengajar fisika yang sangat populer. Berita bahwa dia akan memberikan kuliah di sebuah tempat sudah cukup untuk membuat pengunjung kuliahnya membludak. Kemampuannya berhumornya dalam mengajar kondang  ke mana-mana, dan menginspirasi. Banyak ilmuwan fisika mengakui, seperti halnya Albert R. Hibbs, bahwa Richard Feynman yang telah menginspirasi mereka untuk menjadi seorang ilmuwan.

Albert Einstein dan Richard Feynman adalah contoh dari para ilmuwan yang berkecimpung dalam dunia sains yang sangat serius, tapi tetap humoris. Di luar mereka banyak sekali. Mudah ditemui di mana-mana para ilmuwan dan akademisi yang piawai berhumor. Mereka terkesan super serius hanya karena Anda tak mengenalnya. Jika sudah mengenal mereka, kesimpulan Anda mungkin akan berubah, dan jadi tahu kalau mereka adalah orang-orang paling lucu yang pernah Anda temui.

Sebuah ujar-ujar menyebutkan kalau tak mungkin seorang ilmuwan yang berhasil tak memiliki selera humor. Alasannya sederhana, tanpa selera humor maka mereka akan terpancang untuk selalu serius memecahkan persoalan tertentu. Keseriusan berlebih itu justru mengancam kreativitas yang sangat penting dalam dunia ilmiah. Selera humor juga melepaskan stres yang ditimbulkan akibat terus menerus bergulat dengan perkara sulit yang menyita pikiran. Jadi tak usah heran jika ilmuwan sekaliber Albert Einstein memiliki selera humor yang bagus sekali.

Dunia akademik dan sains sebagai sumber humor

Dunia akademik (pengajaran) dan dunia sains merupakan sumber humor yang kaya. Banyak sekali hal-hal di sana yang bisa menimbulkan kelucuan dan tertawa. Sebagian leluconnya gampang dipahami orang banyak karena menyangkut hal-hal yang tidak bersifat teknis, misalnya lelucon-lelucon yang muncul dari interaksi antara guru/dosen dengan siswa/mahasiswanya serta kehidupan keseharian pengajar atau pelajarnya. Akan tetapi sebagian lain merupakan lelucon yang bersifat teknis dalam bidang ilmu tertentu sehingga memerlukan pengetahuan memadai ilmu itu untuk bisa menangkap kelucuannya. Sebagai contoh, di kalangan ahli matematika biasa terjadi lelucon pemlesetan angka-angka dan rumus-rumus matematika. Di kalangan filsuf juga biasa terjadi lelucon tentang berbagai cara pandang filosofis terhadap dunia. Lalu di kalangan penggelut kimia banyak lelucon plesetan dari berbagai macam ramuan dan zat. Lelucon yang bersifat teknis itu biasanya hanya beredar di kalangan mereka sendiri karena memang hanya mereka yang memahaminya. Mungkin, itu sebabnya kalangan akademisi dan ilmuwan dinilai tak pandai berlelucon karena jarang berlelucon; padahal, sebenarnya mereka berlelucon, hanya saja berlelucon di antara mereka sendiri, yang leluconnya tak bisa dipahami orang lain di luar komunitas mereka. Sekurang-kurangnya, lelucon itu hanya bisa dipahami oleh mereka yang berpengetahuan cukup luas atas berbagai hal.

Berikut adalah sebuah lelucon tentang ‘seruan guru yang mengubah sejarah fisika’: “Schrodinger, berhentilah menakali kucing!”

Nah, pahamkah Anda dengan lelucon di atas? Jika paham, maka Anda pasti bisa menangkap kelucuannya. Jika tak paham, barangkali Anda hanya bertanya-tanya, apa maksudnya? Schrodinger adalah nama belakang Erwin Schrodinger, salah satu fisikawan terbesar yang pernah kita miliki dan seorang peraih nobel tahun 1933. Keahliannya di bidang materi dan mekanika kuantum. Dia terkenal dengan kucing  schrodinger-nya (schrodinger’s cat) untuk menggambarkan bagaimana dunia kuantum bekerja. Dalam aras kuantum, sebuah realitas bisa ada dalam dua kondisi pada saat yang sama; bisa ada di A dan B sekaligus. Oleh Schrodinger dibayangkan seekor kucing yang dimasukkan ke dalam kotak dalam aras kuantum, maka si kucing berada dalam sebuah kondisi yang disebut superstition: dalam keadaan mati dan juga dalam keadaan hidup. Akan tetapi saat kita membuka kotak itu (bukan lagi dalam kondisi kuantum, tapi dalam kondisi biasa), kita akan melihatnya dalam keadaan hanya mati atau hanya hidup. Itulah kucing schrodinger, si kucing yang paling terkenal dalam dunia fisika.

Banyak lelucon tentang dunia akademik dan ilmuwan berupa perbandingan antara berbagai jenis ilmuwan dalam memandang suatu persoalan yang dilihat dari sudut pandangnya masing-masing. Perbandingan itu menarik karena sering menghasilkan berbagai kesimpulan yang aneh-aneh dan tidak biasa. Lalu, kehidupan pribadi dan profesional masing-masing ilmuwan atau akademisi pun menjadi tema yang banyak digali. Kedua jenis tema lelucon itu biasanya berlandaskan pada stereotip-stereotip yang melekat pada mereka. Dan sayangnya, keberadaan lelucon itu memperkuat stereotip tentang mereka.

Humor sebagai alat bantu mengajar

Richard Feynman telah berhasil menjadi pengajar yang sangat populer dan disenangi berkat kemampuannya membawakan pengajaran fisika tingkat tinggi melalui humor. Konon, banyak mahasiswa dari jurusan non-fisika kerap ikut kuliah umumnya (bukan kelas kuliah biasa) karena mereka ingin lebih paham apa itu fisika, terutama fisika kuantum. Jadi, bisa dibayangkan kedahsyatan humor dalam pengajaran. Fisika tingkat lanjut yang hanya bisa dipahami segelintir orang menjadi lebih mudah dipahami berkat humor, apalagi bidang kajian ilmu yang tidak seteknis fisika tingkat tinggi semacam itu.

Telah sejak lama diketahui kalau humor berperan penting dalam keberhasilan pengajaran. Richard Feynman membuktikannya, dan jutaan guru/pengajar di seluruh dunia juga telah mengakuinya. Mengajar dengan humor membuat keberhasilan pengajaran meningkat. Siswa/mahasiswa menjadi lebih mudah paham terhadap materi yang diajarkan, mereka lebih antusias dan terlibat dalam proses belajar, serta menjadi lebih terinspirasi atas materi pelajaran. Mengapa demikian?

Salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah keterlibatan siswa, baik secara emosional maupun kognitif. Seorang pelajar bukanlah makhluk kosong ketika memasuki kelas. Mereka memiliki persoalannya sendiri, serta ketertarikannya sendiri. Tugas para pengajar adalah merebut perhatian semua pelajar itu agar fokus pada materi pembelajaran. Apabila seorang siswa berhasil membuat ketertarikan mendalam pada suatu hal (faktor emosi) maka akan terdorong pula konsentrasi penuh terhadap hal tersebut (faktor kognitif). Konsentrasi dan fokus itu membuat pelajaran/materi menjadi lebih mudah ditangkap. Nah, penggunaan humor membuat siswa menjadi lebih terlibat dalam proses pembelajaran karena munculnya emosi positif menyenangkan dalam pembelajaran itu. Humor juga membuat otak menjadi rileks dan menjauhkan stres sehingga otak lebih siap dalam menerima materi baru, sekaligus dalam berkreativitas. Maka tak mengherankan jika kelas-kelas yang dipenuhi dengan humor merupakan kelas-kelas yang paling kreatif. Konon, dalam suatu penelitian telah dibandingkan dua orang pengajar; yang satu banyak berhumor dan yang satu selalu serius. Mereka berdua mengajar materi yang sama dan memberikan tugas kuliah yang sama pada para mahasiswa. Hasilnya, para mahasiswa di kelas yang diajar oleh pengajar yang banyak berhumor menghasilkan tugas yang lebih baik dan lebih kreatif.

Keefektifan pengajaran dengan humor juga berlaku dalam pelatihan-pelatihan. Tanpa humor, selain kurang menarik dan membosankan, pelatihan itu biasanya juga kurang berhasil mencapai tujuannya. Akan tetapi jika terlalu banyak berhumor juga bisa menjadi bumerang karena akan menjauhkan fokus dari materi yang sebenarnya. Humor yang berhasil dalam  pengajaran/pelatihan adalah humor yang digunakan secara tepat.

Humor yang tidak digunakan secara tepat bisa menimbulkan masalah, alih-alih memperlancar pembelajaran. Humor yang menyerang seorang siswa, misalnya dengan mengolok-olok perilaku atau kelemahannya, justru bisa kontra-produktif dengan tujuan penggunaan humor di dalam kelas. Mereka yang terserang bisa menarik diri, tersinggung, marah, tegang, atau cemas berlebih. Akibatnya, si siswa justru semakin menjauh dari fokus belajar. Baginya, pelajaran/kuliah menjadi tidak menyenangkan karena muncul emosi negatif akibat terserang humor. Ironisnya, banyak guru/dosen justru sering melakukan kesalahan tersebut, yakni sengaja memancing tawa dengan mengolok-olok siswa/mahasiswanya. Benar bahwa kelasnya akan dihiasi tawa, tapi hasilnya buruk karena ada pihak-pihak yang dirugikan.

Jadi, bijaklah dalam berhumor.

Selamat menikmati lelucon!, yang jika diucapkan Einstein akan menjadi, “seberapa besar kekuatan lEluconnya (E) tergantung pada Massa otak Anda (m) dan kecepatan kuadrat bekerjanya otak Anda (c²), karena E=mc².

—————————————————————————————————————————————-

Sumber Bacaan

——–

Berikut adalah buku-buku yang menjadi sumber beragam informasi dalam tulisan ini. Silakan mengecek buku-buku tersebut untuk lebih lanjut memahami fenomena humor.

 Artikel 1. Apakah Humor?
  • Jaak Panksepp. 2005. Beyond a Joke: From animal laughter to human joy? Science, 308 (5718), 62-63.
  • Karin Sommer & Willibald Ruch. 2009. Cheerfulness. Dalam Shane J. Lopez (Ed.), Encyclopedia of Positive Psychology, hal. 144-148. London: Blackwell Publishing.
  • Rod A. Martin. 2004. Sense of Humor. Dalam Shane J.Lopez & C.R. Snyder (Eds.). Positive Psychological Assessment: A handbook of models and measures, hal. 313-326. Washington: American Psychological Association.
  • Rod A. Martin. 2007. The Psychology of Humor: An integrative approach. Massachusetts: Elsevier.
  • Rod A. Martin. 2009. Humor. Dalam Shane J. Lopez (Ed.), Encyclopedia of Positive Psychology, hal. 503-508. London: Blackwell Publishing.
  • Steve Ayan. 2009. Laughing Matters. Scientific American Mind, 20 (2), 24-31.
  • Willibald Ruch. 2008. Psychology of Humor. Dalam Victor Raskin (Ed.), The Primer of Humor Research, hal. 17-100. Berlin: Mouton de Gruyter.
 
Artikel 2. Otak Humor
  • Daniel Elkan. 2010. The Comedy Circuit: What happens when your brain gets the joke. New Scientist, 205 (2745), 40-43.
  • Jaak Panksepp. 2005. Beyond a Joke: From animal laughter to human joy? Science, 308 (5718), 62-63.
  • Judith Horstman. 2009. The Scientific American Day in the Life of Your Brain. San Francisco: Jossey-Bass.
  • Peter Sergo. 2008. The Eyes get It. Scientific American Mind, 19 (1): 14.
  • Steve Ayan. 2009. Laughing Matters. Scientific American Mind, 20 (2), 24-31.
 
Artikel 3. Humor dan Kesehatan
  • Rod A. Martin. 2007. The Psychology of Humor: An integrative approach. Massachusetts: Elsevier.
  • Rod A. Martin. 2008. Humor and Health. Dalam Victor Raskin (Ed.), The Primer of Humor Research, hal. 479-521. Berlin: Mouton de Gruyter.
  • Steve Ayan. 2009. Laughing Matters. Scientific American Mind, 20 (2), 24-31.
  • Mary Payne Bennett & Cecile Lengacher. 2009. Humor and Laughter May Influence Health IV. Humor and Immune Function. eCAM, 6 (2), 159–164. DOI:10.1093/ecam/nem149.
 
Artikel 4. Humor dan Kesejahteraan Psikologis
  • Christopher Peterson & Martin E. P. Seligman. 2004. Character Strengths and Virtues: a handbook and classification. New York: Oxford University Press. 
  • Daniel Eckstein, Enda Junkins & Robert McBrien. 2003. Ha, Ha, Ha: Improving Couple and Family Healthy Humor (Healthy Humor Quotient). The Family Journal, 11(3), 301-305. DOI: 10.1177/1066480703252869.
  • Steve Ayan. 2009. Laughing Matters. Scientific American Mind, 20 (2), 24-31.
  • Rod A. Martin. 2007. The Psychology of Humor: An integrative approach. Massachusetts: Elsevier.
  • Rod A. Martin. 2008. Humor and Health. Dalam Victor Raskin (Ed.), The Primer of Humor Research, hal. 479-521. Berlin: Mouton de Gruyter.
 
Artikel 5. Humor dan Religi
  • Avner Ziv and Anat Zajdman (Eds.). 1993. Semites and Stereotypes: Characteristics of Jewish humor. Westport: Greenwood Press.
  • Daniel C. Dennet. 2007. Breaking the Spell: Religion as a natural phenomenon. London: Penguin.
  • Georges Tamer. 2009. The Qur’ān and humor. Dalam Georges Tamer (editor), Humor in Arabic Culture, hal. 3-28. New York: Walter de Gruyter.
  • Ignacio L.Götz. 2002. Faith, Humor, and Paradox. London: Praeger
  • Matthew Helmke. 2007. Humor and Moroccan Culture. Morocco: Matthew Helmke.
  • Michael Dunne. 2007. Calvinist Humor in American Literature. Baton Rouge: Louisiana State University Press
  • Tal Ilan. 2009. The Joke in Rabbinic Literature: Home-born or Diaspora humor?. Dalam Georges Tamer (editor), Humor in Arabic Culture, hal. 57-75. New York: Walter de Gruyter.
 
Artikel 6. Humor dan Seksualitas
  • Caroline A. Thomas & Victoria M. Esses. 2004. Individual Differences in Reactions to Sexist Humor. Group Processes & Intergroup Relations, 7(1), 89–100. DOI: 10.1177/ 1368430204039975.
  • Kristin M. McAndrews. 2006. Wrangling Women: Humor and gender in the American west. Nevada: University of Nevada Press
  • Nancy Walker. 1988. A Very Serious Thing: Women’s humor and American culture. Minneapolis: University of Minnesota Press
  • Norman P. Li, Vladas Griskevicius, Kristina M. Durante, Peter K. Jonason, Derek J. Pasisz & Katherine Aumer. (2009). An Evolutionary Perspective on Humor: Sexual Selection or Interest Indication? Personality and Social Psychology Bulletin, 35(7), 923-936. DOI: 10.1177/0146167209334786.
  • Richard Dawkins. 2006. The Selfish Gene, 30th anniversary edition. New York: Oxford University Press.
  • Thomas E. Ford (2000). Effects of Sexist Humor on Tolerance of Sexist Events. Personality and Social Psychology Bulletin, 26(9), 1094-1107. DOI: 10.1177/01461672002611006.
  • Thomas E. Ford, Christie F. Boxer, Jacob Armstrong & Jessica R. Edel (2008). More Than “Just a Joke”: The Prejudice-Releasing Function of Sexist Humor. Personality and Social Psychology Bulletin, 34(2), 159-170. DOI: 10.1177/0146167207310022.
 
Artikel 7. Humor dan Pernikahan
  • Daniel Eckstein, Enda Junkins & Robert McBrien. 2003. Ha, Ha, Ha: Improving Couple and Family Healthy Humor (Healthy Humor Quotient). The Family Journal, 11 (3), 301-305, DOI: 10.1177/1066480703252869
  • Frank D. Fincham. 2004. Communication in Marriage. Dalam Anita L. Vangelisti (ed.), Handbook of family communication, hal.  83-103.New Jersey: Lawrence Erlbaum.
  • Jess K. Alberts, Christina G. Yoshimura, Michael Rabby & Rose Loschiavo. 2005. Mapping the topography of couples’ daily conversation. Journal of Social and Personal Relationships, 22, 299–322. DOI: 10.1177/0265407505050941
  • John Defrain & Nick Stinnett. 2003. Family Strengths. Dalam James J. Ponzetti, Jr. (ed.), International encyclopedia of marriage and family, hal. 637-642. New York: Thomson-Gale
  • Lenore E.A. Walker. 2009. The Battered Woman Syndrome, 3rd ed. New York: Springer.
  • Norman P. Li, Vladas Griskevicius, Kristina M. Durante, Peter K. Jonason, Derek J. Pasisz & Katherine Aumer. 2009. An Evolutionary Perspective on Humor: Sexual Selection or Interest Indication? Personality and Social Psychology Bulletin, 35 (7), 923-936. DOI: 10.1177/0146167209334786.
  • Rod A. Martin. 2007. The Psychology of Humor: An integrative approach. Massachusetts: Elsevier.
 
 Artikel 8. Humor dan Psikologi
  • Rod A. Martin. 2007. The Psychology of Humor: An integrative approach. Massachusetts: Elsevier.
  • Willibald Ruch. 2008. Psychology of Humor. Dalam Victor Raskin (Ed.), The Primer of Humor Research, hal. 17-100. Berlin: Mouton de Gruyter.
 
Artikel 9. Humor dan dunia kerja
  • Charles S. Gulas & Marc G. Weinberger. 2006.  Humor in Advertising: a comprehensive analysis. New York: M.E. Sharpe
  • Eric Romero & Anthony Pescosolido. 2008. Humor and Group Effectiveness. Human Relations, 61(3): 395–418. DOI: 10.1177/0018726708088999
  • K. Sathyanarayana. 2007. The Power of Humor at the Workplace. New Delhi: Sage Publications
  • Karen L. Vinton. 1989. Humor in the Workplace: It Is More Than Telling Jokes. Small Group Research, 20, 151-166. DOI: 10.1177/104649648902000202
  • Michael Kerr. 2001. You can’t be serious! Putting Humor to Work. Alberta: Speaking of Ideas.
  • Peter Fleming. 2005. Workers’ Playtime?: Boundaries and Cynicism in a “Culture of Fun” Program. Journal of Applied Behavioral Science, 41, 285-303. DOI: 10.1177/0021886305277033
  • Stephanie Schnurr & Janet Holmes. 2009. Using humor to do masculinity at work. Dalam Neal R. Norrick & Delia Chiaro (Eds.), Humor in interaction, hal. 101-123. Amsterdam: John Benjamins B.V.
  • W. Jack Duncan. 1985. The Superiority Theory of Humor At Work: Joking Relationships as Indicators of Formal and Informal Status Patterns in Small, Task-Oriented Groups. Small Group Research, 16, 556-564. DOI: 10.1177/104649648501600412
  • William A. Kahn. 1989. Toward a Sense of Organizational Humor: Implications for Organizational Diagnosis and Change. Journal of Applied Behavioral Science, 25, 45-63. DOI: 10.1177/0021886389251004
 
Artikel 10. Humor dunia akademik dan keilmuan
  • Mark C Ebersole. 1992. Hail to Thee, Okoboji U!: A Humor Anthology On Higher Education. New York: Fordham University Press.
  • Ronald A. Berk. 2002. Humor as an Instructional Defibrillator: evidence-based techniques in teaching and assessment. Virginia: Stylus Publishing.
  • Béatrice Priego-Valverde. 2009. Failed humor in conversation: A double voicing* analysis. Dalam Neal R. Norrick & Delia Chiaro (Eds.), Humor in interaction, hal. 165-183. Amsterdam: John Benjamins B.V.
  • Doni Tamblyn. 2002. Laugh and Learn: 95 ways to use humor for more effective teaching and training. New York: AMACOM
  • Richard P. Feynman & Ralph Leighton. 1985. “Surely You’re Joking, Mr. Feynman!”: Adventures of a Curious Character. New York: W. W. Norton.
  • Abraham Pais. 2005. Subtle is the Lord: The Science and the Life of Albert Einstein. Oxford: Oxford University Press
 
** Kartun karya kartunis Kompas yang dipublikasikan dalam koran Kompas.
 
This entry was posted in Psikologi Populer and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s